Wallstreet. Foto : AFP.
Wallstreet. Foto : AFP.

Wall Sreet Kembali Tertekan, Dow Jones Anjlok 1,15%

Antara • 07 Oktober 2022 07:04
New York: Indeks-indeks utama Wall Street merosot pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Ini karena kekhawatiran sikap agresif Federal Reserve (The Fed) dalam menaikkan suku bunga akan menyebabkan resesi.
 
baca juga:  Fed Ngotot Agresif Naikkan Suku Bunga, Reli Wall Street Berhenti

Dikutip dari Antara, Jumat, 7 Oktober 2022, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 346,93 poin atau 1,15 persen menjadi 29.926. Indeks S&P 500 merosot 38,76 poin atau 1,02 persen, menjadi 3.744,52. Indeks Komposit Nasdaq tergelincir 75,33 poin atau 0,68 persen dan ditutup ke 11.073,31.
 
Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor utilitas dan real estat masing-masing terperosok 3,3 persen dan 3,2 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi terangkat 1,82 persen seiring dengan kenaikan harga minyak, menjadikannya satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.
 
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membebani daya tarik saham. Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10 tahun yang dijadikan acuan dan obligasi pemerintah dua tahun keduanya naik pada Kamis, 6 Oktober 2022, setelah penurunan yang terlihat awal pekan ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasar ekuitas biasanya bergerak negatif dengan imbal hasil obligasi, karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi akan membuat investasi ekuitas menjadi kurang menarik.
 
Pasar secara singkat mengambil kenyamanan dari data yang menunjukkan klaim pengangguran mingguan naik paling tinggi dalam empat bulan pekan lalu, meningkatkan secercah harapan The Fed dapat melonggarkan implementasi kenaikan suku bunga tercepat dan tertinggi sejak Maret dalam beberapa dekade.
 
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim pengangguran awal negara itu, cara kasar untuk mengukur PHK, meningkat 29 ribu menjadi 219 ribu dalam pekan yang berakhir 1 Oktober. Ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal memperkirakan klaim baru menjadi total 203 ribu.
 
Pasar ekuitas tampak lambat untuk mengakui pesan yang konsisten dari pejabat Fed suku bunga akan naik lebih lama sampai laju inflasi jelas melambat.
 
Presiden The Fed Chicago Charles Evans menguraikan pandangan bank sentral, pembuat kebijakan berharap untuk memberikan 125 basis poin kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun karena data inflasi mengecewakan.
 
"Pasar perlahan-lahan menerima pesan The Fed," kata Kepala Investasi di Glenmede di Philadelphia Jason Pride.
 
"Ada kemungkinan Fed dengan kenaikan suku bunga lebih lanjut mendorong ekonomi ke dalam resesi untuk menurunkan inflasi," kata Pride.
 
Pasar uang memperkirakan peluang hampir 86 persen untuk kenaikan suku bunga 75 basis poin keempat berturut-turut ketika para pembuat kebijakan Fed bertemu pada 1-2 November.
Laporan situasi ketenagakerjaan AS untuk September yang diawasi lebih ketat akan dirilis oleh departemen pada Jumat waktu setempat.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif