Mata uang Dolar AS. Foto : MI.
Mata uang Dolar AS. Foto : MI.

Dolar AS Melonjak Tertinggi Selama Dua Tahun Terakhir

Ekonomi suku bunga Ekonomi Amerika The Fed Dolar AS Indeks Dolar
Antara • 23 April 2022 08:45
New York: Dolar AS melonjak ke level tertinggi lebih dari dua tahun pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), saat terus mendapat sokongan dari komentar Ketua Federal Reserve (Fed) Jerome Powell yang tampaknya mendukung pengetatan setengah poin persentase pada pertemuan kebijakan bulan depan.
 
Indeks dolar, ukuran nilai greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, mencapai 101,33, tertinggi sejak Maret 2020. Terakhir naik 0,6 persen pada 101,16, persentase kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Maret. Sejauh tahun ini, indeks dolar telah naik 5,7 persen.
 
"Fundamental makro masih mengarah ke Dolar AS yang lebih tinggi karena imbal hasil obligasi pemerintah jangka pendek vs jatuh tempo yang sebanding pada imbal hasil obligasi pemerintah adalah positif dan inflasi tinggi secara global," kata Ahli Strategi Pendapatan Tetap Evercore ISI, Stan Shipley, di New York dikutip dari Antara, Sabtu, 23 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penggerak makro ini bekerja dengan baik sampai dolar mencapai tingkat di mana pertumbuhan ekonomi terganggu secara signifikan dan kelayakan kredit utang pemerintah AS meragukan," tambahnya.
 
Powell mengatakan kenaikan suku bunga setengah poin ketika bank sentral AS bertemu pada 3-4 Mei. Fed futures fund sudah mulai memperkirakan kenaikan 50 basis poin ketiga pada Juli, setelah kenaikan yang sama pada Mei dan Juni, dan hampir 250 basis poin kenaikan kumulatif pada tahun 2022.
 
"Bahkan jika Fed melakukan back-to-back-to-back 50 basis poin kenaikan, itu masih pada tingkat yang paling bawah atau di bawah netral," kata Kepala Americas Developed Markets Strategy  BNP Paribas, Calvin Tse, di New York.
 
"Mereka mungkin tidak merasa pengetatan yang berlebihan karena bahkan setelah kenaikan ini diberlakukan, kebijakan masih akan longgar, masih akomodatif." tambah dia.
 
Di seberang Atlantik, euro turun 0,4 persen menjadi 1,0792 dolar, setelah pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) mengirimkan sinyal kebijakan yang beragam.
 
Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan bank sentral mungkin perlu memangkas prospek pertumbuhannya sehari setelah pejabat ECB Luis de Guindos bergabung dengan beberapa pembuat kebijakan dalam menyerukan diakhirinya lebih awal skema pembelian aset bank ditambah dengan kenaikan suku bunga pada Juli.
 
Investor juga menunggu pemilihan Presiden Prancis putaran kedua pada  antara petahana Emmanuel Macron dan penantang sayap kanan Marine Le Pen, dengan jajak pendapat terbaru menunjukkan Macron menang dengan 55 persen suara. Kemenangan Le Pen dapat memicu ketegangan dengan sekutu Eropa dan membebani euro, kata para analis.
 
Sterling jatuh terhadap Dolar AS ke level terendah sejak November 2020 setelah data penjualan dan komentar bank sentral Inggris mengisyaratkan kemungkinan perlambatan di jalur kenaikan suku bunga.
 
Pound turun 1,5 persen terhadap Dolar AS menjadi 1,2832 dolar, setelah mencapai 1,2830 dolar, terendah sejak Oktober 2020. Terhadap yen, Dolar AS naik 0,2 persen menjadi 128,55 yen. Yen masih dalam jarak mencolok dari level terlemahnya sejak April 2002 di 129,43 yen per dolar yang dicapai pada Rabu, 20 April 2022.
 
Sejak awal tahun, yen telah kehilangan lebih dari 10 persen nilainya terhadap dolar yang bangkit kembali. Pelemahan yen telah menaikkan biaya harga impor seperti komoditas, yang masih dihargai dalam dolar.
 
Pedagang secara keseluruhan tetap waspada terhadap intervensi dari pejabat moneter Jepang untuk memperkuat yen. Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki mengatakan dia setuju dengan Menteri Keuangan AS Janet Yellen untuk berkomunikasi secara dekat tentang pergerakan mata uang.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif