Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO

Kurs Rupiah Sepekan Unjuk Gigi Usai UU Cipta Kerja Disahkan

Ekonomi Kurs Rupiah Berita Menarik Ekonomi Sepekan
Angga Bratadharma • 10 Oktober 2020 11:01
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan di sepanjang pekan terpantau konsisten di jalur hijau. Mata uang Garuda mampu perkasa usai Undang-Undang (UU) Cipta Kerja disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di awal pekan ini.
 
Mengutip data Bloomberg, Sabtu, 10 Oktober 2020, nilai tukar rupiah pada awal pekan atau tepatnya Senin, 5 Oktober, berada di posisi Rp14.800 per USD. Lalu pada Selasa, 6 Oktober, mata uang Garuda menguat ke level Rp14.735 per USD. Kemudian pada Rabu, 7 Oktober, nilai tukar rupiah kembali menguat ke posisi Rp14.710 per USD.
 
Namun pada Kamis, 8 Oktober, reli mata uang Garuda sempat terhenti dan pi stabil di level Rp14.710 per USD. Sedangkan di akhir pekan atau tepatnya Jumat, 9 Oktober, nilai tukar rupiah sukses kembali menguat dan berakhir di level Rp14.675 per USD. Otot mata uang Garuda kian kokoh usai dapat 'asupan' UU Cipta Kerja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, kurs dolar Amerika Serikat melemah pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Tekanan terjadi karena pelaku pasar mengamati berlanjutnya pembahasan mengenai stimulus covid-19 yang sempat dihentikan oleh Presiden AS Donald Trump.
 
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,59 persen menjadi 93,0532. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1825 dari USD1,1758 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3038 dari USD1,2933 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar Australia naik menjadi USD0,7231 dibandingkan dengan USD0,7163. Dolar AS dibeli 105,62 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 106,01 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9097 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9171 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3131 dolar Kanada dari 1,3199 franc Kanada.
 
"Di AS, perdebatan tentang paket fiskal baru yang dimaksudkan untuk meredakan efek krisis covid terus berlanjut, meskipun pasar telah cukup banyak meninggalkan harapan bahwa paket utama akan disahkan menjelang Pemilihan Presiden," kata Analis Commerzbank Research Antje Praefcke, dalam sebuah catatan.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif