Ilustrasi pabrik manufaktur. Foto: Unsplash.
Ilustrasi pabrik manufaktur. Foto: Unsplash.

PMI Manufaktur ASEAN Tertinggi Sejak Februari dengan Penyerapan Tenaga Kerja Terbatas

Arif Wicaksono • 03 November 2026 16:24
Ringkasnya gini..
  • Aktivitas manufaktur di kawasan ASEAN menunjukkan penguatan pada Oktober 2026. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur ASEAN yang dirilis S&P Global naik menjadi 53,1 dari posisi 52,1 pada September 2026.
  • Berdasarkan laporan S&P Global, capaian tersebut menjadi yang terkuat sejak Februari 2026. Penguatan indeks terutama ditopang oleh lonjakan permintaan baru yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah survei.

Jakkarta: Aktivitas manufaktur di kawasan ASEAN menunjukkan penguatan pada Oktober 2026. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur ASEAN yang dirilis S&P Global naik menjadi 53,1 dari posisi 52,1 pada September 2026. Kenaikan ini mencerminkan perbaikan kondisi operasional sektor manufaktur yang semakin solid.

Berdasarkan laporan S&P Global, capaian tersebut menjadi yang terkuat sejak Februari 2026. Penguatan indeks terutama ditopang oleh lonjakan permintaan baru yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah survei.

Pertumbuhan permintaan baru tersebut turut mendorong peningkatan produksi manufaktur. Aktivitas produksi tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2026, menandakan semakin kuatnya aktivitas industri di kawasan Asia Tenggara.

 

Meningkatnya kebutuhan produksi juga mendorong perusahaan memperbesar aktivitas pembelian bahan baku. Laju pembelian tercatat meningkat paling cepat sejak September 2022. Sementara itu, persediaan bahan baku turut bertambah pada Oktober, meskipun laju pertumbuhannya relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Di sisi lain, peningkatan aktivitas manufaktur belum sepenuhnya diikuti oleh penyerapan tenaga kerja. Perekrutan masih berlangsung secara terbatas, bahkan sedikit lambat dibandingkan September. Penambahan tenaga kerja hanya mencatatkan pertumbuhan marginal.

Keterbatasan tenaga kerja tersebut membuat perusahaan menghadapi peningkatan tunggakan pekerjaan. Backlog atau pekerjaan yang belum terselesaikan melonjak dengan laju tertinggi sepanjang sejarah survei pada Oktober 2026.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, sejumlah perusahaan akhirnya memanfaatkan persediaan barang jadi. Kondisi ini menyebabkan stok barang jadi mengalami penurunan signifikan, bahkan termasuk salah satu penurunan terbesar sepanjang sejarah survei.

Tekanan lain juga datang dari sisi biaya produksi. Inflasi biaya input meningkat lebih cepat pada Oktober dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut mendorong produsen menaikkan harga jual produk.

Baik inflasi biaya input maupun harga jual tercatat meningkat dan tetap berada pada level tinggi secara historis. Hal ini mengindikasikan bahwa penguatan aktivitas manufaktur ASEAN masih dibayangi tekanan kenaikan biaya produksi.

Meski demikian, optimisme pelaku industri terhadap prospek bisnis menunjukkan peningkatan. Tingkat kepercayaan produsen mencapai posisi tertinggi dalam empat tahun terakhir. Perusahaan secara umum meyakini produksi akan terus meningkat dalam 12 bulan mendatang.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Maryam Baluch mengatakan sektor manufaktur ASEAN mengawali kuartal terakhir 2026 dengan melanjutkan momentum pertumbuhan yang telah terbentuk pada kuartal sebelumnya.

Menurut dia, kondisi operasional manufaktur membaik secara signifikan dengan laju tercepat sejak Februari 2026. Salah satu faktor pendorongnya adalah lonjakan permintaan terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang memberikan keuntungan bagi kawasan ASEAN.

"Rekor pertumbuhan permintaan baru pada bulan Oktober mendukung peningkatan produksi yang solid. Selain itu, perusahaan memperkirakan produksi akan terus meningkat dalam satu tahun ke depan, yang seharusnya mendorong produsen untuk meningkatkan perekrutan tenaga kerja," ujar Maryam.

Namun, Maryam mengingatkan penguatan sektor manufaktur belakangan ini tidak serta-merta menghilangkan risiko eksternal yang dihadapi kawasan ASEAN.

Menurutnya, risiko geopolitik dan konflik perang masih berpotensi mengganggu prospek pertumbuhan industri. Kawasan ASEAN dinilai tetap rentan terhadap berbagai gejolak eksternal yang dapat menghambat momentum pemulihan manufaktur.

"Lonjakan sektor manufaktur baru-baru ini telah menyamarkan risiko eksternal terkait geopolitik dan perang. Namun, ASEAN masih sangat rentan terhadap berbagai risiko tersebut, dan guncangan apa pun berpotensi memperlambat momentum pertumbuhan kawasan saat ini," jelasnya.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan