Jakarta: Sektor manufaktur Indonesia belum benar-benar tancap gas pada Agustus 2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global turun ke level 49,8 dari 50,2 pada Juli.
Angka di bawah 50 biasanya menunjukkan aktivitas manufaktur sedang mengalami kontraksi. Meski begitu, kondisi bisnis secara keseluruhan masih relatif stabil di pertengahan triwulan ketiga 2026.
Menariknya, di tengah produksi yang kembali turun, kepercayaan pelaku bisnis justru naik ke level tertinggi dalam tujuh bulan.
Penurunan PMI pada Agustus terutama dipicu oleh kembali melemahnya produksi dan jumlah tenaga kerja. Bahkan, produksi dan ketenagakerjaan sektor manufaktur Indonesia sudah menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Produksi yang melemah dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari persaingan bisnis yang makin ketat, permintaan yang masih lemah, hingga kenaikan harga barang.
Sejumlah perusahaan akhirnya mengurangi jumlah pekerjanya karena kebutuhan produksi menurun. Ada juga perusahaan yang kesulitan mempertahankan jumlah tenaga kerja akibat pengunduran diri secara sukarela.
Namun, bukan berarti semua indikator sedang merah. Permintaan baru justru mulai menunjukkan tanda-tanda positif. Indeks terkait memasuki wilayah ekspansi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, meskipun hanya sedikit di atas angka netral 50.
Artinya, ada kenaikan pekerjaan baru, tetapi skalanya masih sangat kecil. Laporan mengenai permintaan yang mulai membaik dan meningkatnya pesanan pelanggan di sejumlah perusahaan menjadi sinyal positif. Meski begitu, kondisi tersebut masih berhadapan dengan lemahnya permintaan, persaingan yang semakin ketat, serta daya beli pelanggan yang menurun di perusahaan lainnya.
Ada perubahan menarik lainnya dari sisi aktivitas pembelian. Setelah lima bulan berturut-turut menurun, aktivitas pembelian perusahaan manufaktur akhirnya stabil pada Agustus.
Sejumlah perusahaan bahkan mulai meningkatkan pembelian karena menerima lebih banyak pesanan baru. Ada pula perusahaan yang mulai menambah persediaan bahan baku untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga.
Persediaan bahan baku yang dibeli meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan, meskipun kenaikannya masih tipis.
Strategi ini bisa dibilang seperti perusahaan mulai "sedia payung sebelum hujan". Mereka memilih menambah stok karena memperkirakan biaya bahan baku bakal naik.
Di sisi lain, inventaris produk setelah produksi kembali menurun untuk empat bulan berturut-turut. Penurunannya tergolong sedang, tetapi menjadi yang tercepat bersama dalam lebih dari empat tahun, sama seperti yang tercatat pada Mei 2025.
Harga Masih Jadi Tantangan
Dari sisi harga, kabar baiknya adalah tekanan inflasi kembali mereda pada Agustus. Namun, bukan berarti persoalan harga sudah selesai. Inflasi harga input dan harga output masih tergolong tinggi secara historis. Harga bahan baku yang mahal serta kenaikan biaya dari pemasok masih menekan biaya operasional perusahaan.
Sebagian biaya tersebut kemudian diteruskan kepada pelanggan melalui kenaikan harga.Jadi, meskipun tekanan inflasi mulai turun, dunia usaha masih harus menghadapi biaya produksi yang relatif tinggi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, ada satu indikator yang justru bergerak positif: kepercayaan bisnis. Kepercayaan pelaku usaha terus pulih sejak mencapai level terendah pada April. Pada Agustus, tingkat kepercayaan bisnis naik tipis dan mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan.
Optimisme tersebut muncul karena pelaku usaha melihat peluang kondisi permintaan yang lebih kuat dan pasar yang lebih stabil dalam 12 bulan ke depan.
Dengan kata lain, kondisi manufaktur saat ini memang belum terlalu kuat, tetapi pelaku usaha masih melihat alasan untuk tetap optimistis.
Maryam Baluch, Ekonom S&P Global Market Intelligence, mengatakan kondisi sektor manufaktur Indonesia sedikit memburuk karena produksi kembali menurun dan ketenagakerjaan membalikkan perbaikan pada bulan sebelumnya.
“Data PMI terbaru menunjukkan kondisi sektor manufaktur Indonesia sedikit memburuk, karena produksi kembali menurun dan ketenagakerjaan membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Sementara itu, kondisi permintaan secara umum berada dalam kondisi netral,” ujar Maryam.
Namun, tekanan inflasi yang kembali mereda serta kepercayaan bisnis yang terus pulih sejak April menjadi sinyal positif.
“Namun demikian, tekanan inflasi kembali mereda. Selain itu, kepercayaan bisnis juga terus pulih sejak bulan April, menunjukkan bahwa meskipun kinerja sektor secara keseluruhan masih lemah, produsen tetap berharap produksi akan meningkat selama 12 bulan mendatang,” katanya.
Jadi, Kondisi Manufaktur RI Gimana?
Kalau dibuat sederhana, kondisi manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 masih belum benar-benar pulih, tapi juga belum bisa dibilang ambruk.
Produksi dan tenaga kerja masih tertekan. Permintaan mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit, aktivitas pembelian mulai stabil, tekanan inflasi mereda, dan yang paling menarik, kepercayaan bisnis terus meningkat.
Produksi dan tenaga kerja masih tertekan. Permintaan mulai menunjukkan tanda-tanda bangkit, aktivitas pembelian mulai stabil, tekanan inflasi mereda, dan yang paling menarik, kepercayaan bisnis terus meningkat.
Jadi, meski kondisi saat ini masih penuh tantangan, pelaku industri tampaknya masih melihat 2027 dengan cukup optimistis. Tinggal menunggu apakah optimisme tersebut benar-benar berubah menjadi kenaikan produksi dalam beberapa bulan ke depan.