Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Kesepakatan Investasi Tiongkok-UE Timbulkan 3 Kekhawatiran Besar

Ekonomi perdagangan ekonomi china ekonomi eropa tiongkok uni eropa
Angga Bratadharma • 09 Januari 2021 13:29
Brussels: Kesepakatan investasi baru yang dicapai antara Uni Eropa (UE) dan Tiongkok kemungkinan bisa gagal ketika melewati anggota parlemen Eropa, setelah mereka mengemukakan tiga masalah besar dengan perjanjian tersebut. Sebelumnya, kedua belah pihak pada akhir 2020 telah mencapai kata sepakat.
 
Setelah tujuh tahun bernegosiasi, Komisi Eropa yang merupakan Badan Eksekutif UE, mengumumkan kesepakatan investasi dengan Tiongkok pada 30 Desember 2020. Kemudian finalisasi mengenai kata-kata kesepakatan investasi masih diselesaikan oleh para pengacara dan kemudian harus disetujui oleh Parlemen Eropa sebelum pelaksanaannya.
 
"Namun, persetujuan sama sekali tidak diberikan," kata Anggota Parlemen Jerman Reinhard Bütikofer, di Parlemen Eropa, dilansir dari CNBC International, Sabtu, 9 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa politisi percaya perjanjian itu menimbulkan tiga kekhawatiran seperti kurangnya penegakan, tentang hak asasi manusia, dan dapat merusak hubungan antara Eropa dengan Amerika Serikat. UE memang memiliki ambisi untuk membuat investasi asing lebih adil bagi perusahaan Eropa yang bersaing dengan perusahaan yang didanai negara di Tiongkok.
 
Kepala Perdagangan UE Valdis Dombrovskis mengatakan tujuan utama dari perjanjian ini adalah guna mengatasi ketidakseimbangan ekonomi dalam hubungan Uni Eropa. Menurutnya pasar Uni Eropa secara substansial lebih terbuka bagi perusahaan dan investasi Tiongkok daripada pasar Tiongkok untuk perusahaan Uni Eropa.
 
"Dan perjanjian ini benar-benar membantu untuk mengatasi ketidakseimbangan ini," tegasnya.
 
Akibatnya, perjanjian investasi menyatakan bahwa Tiongkok tidak akan lagi dapat melarang akses atau memperkenalkan praktik diskriminatif baru di sektor manufaktur dan juga beberapa sektor jasa. Pada saat yang sama, Beijing juga telah berkomitmen bersikap transparan mengenai subsidi untuk perusahaan milik negara.
 
Kemudian Tiongkok akan melarang transfer teknologi paksa -ketika pemerintah meminta perusahaan asing untuk membagikan teknologi mereka dengan imbalan akses pasar. Kesepakatan itu juga mempermudah perusahaan Eropa untuk mendapatkan dokumen yang benar yang disetujui oleh otoritas Tiongkok.
 
"Ada beberapa perbaikan (pada akses pasar)," kata Bütikofer.
 
Akan tetapi, dia mempertanyakan sejauh mana kesepakatan ini meningkatkan akses untuk semua perusahaan Eropa dan tidak hanya segelintir perusahaan besar. "Pada level playing field, masalah sebenarnya adalah implementasi," tutupnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif