Ilustrasi. FOTO: RBS
Ilustrasi. FOTO: RBS

DBS: Ekonomi di Asia Perlahan Kembali Stabil

Ekonomi Virus Korona Ekonomi Indonesia dbs indonesia Pemulihan Ekonomi Nasional
Angga Bratadharma • 16 Oktober 2020 08:30
Jakarta: Laju pemulihan ekonomi di tengah pandemi global di beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang telah terlihat melandai setelah terjadi gejolak tajam di triwulan ketiga. Prospek perdagangan di Asia juga tampak telah membaik seiring dengan dimulainya kembali rantai perdagangan.
 
Kondisi itu ditunjukkan dengan terjadinya peningkatan permintaan di Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi di Asia perlahan telah kembali stabil. Meski masih banyak tantangan, namun terdapat tanda-tanda bahwa ekonomi di Asia mulai bangkit kembali yang disebabkan dari berhasilnya pengelolaan pandemi.
 
"Seperti kembalinya permintaan di Tiongkok, kebijakan moneter yang akomodatif, dan langkah-langkah fiskal yang besar dan tepat untuk mendukung pulihnya sektor konsumen, bisnis, dan sektor keuangan," ujar Senior Vice President Economics & Strategy Research DBS Bank Radhika Rao, dalam sebuah webinar, Kamis, 15 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kendati demikian, Radhika berpendapat Indonesia masih akan menempuh proses yang panjang dalam hal pengelolaan pandemi dan pemulihan kehidupan masyarakat, serta terhadap beberapa faktor lain, seperti dampak pandemi pada ekonomi, pengelolaan dana bantuan, objektivitas Bank Indonesia, pasar keuangan, dan faktor risiko lainnya.
 
"Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan meningkat 5,5 persen pada tahun depan. Sedangkan defisit fiskal diprediksi tetap terkontraksi di minus 5,5 persen dari sebelumnya di angka minus 6,3 persen," kata Radhika.
 
Selain itu, tambahnya, beberapa faktor lainnya yang menjadi risiko pemulihan bagi Indonesia adalah penundaan kembali aktivitas jika kasus positif covid-19 tidak kunjung mereda, tingginya partisipasi dari investor asing di pasar utang dalam negeri, kesehatan fiskal, dan tingginya tingkat utang publik.
 
"Serta rasio cadangan devisa terhadap pembiayaan eksternal bruto yang relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan regional," ucapnya.
 
Sementara itu, Managing Director and Chief Economist Group Research DBS Bank Taimur Baig mengatakan, beberapa faktor akan sangat menentukan daya tahan dan kekuatan pemulihan, termasuk penyempurnaan siklus perdagangan, fiskal berkelanjutan dan akomodasi moneter, serta koordinasi regional untuk membuka kembali perjalanan dan pariwisata.
 
"Dan mempertahankan praktik terbaik dalam pengelolaan pandemi akan menjadi kunci untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan,' ujar Taimur Baig.
 
Terkait dengan pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) AS yang akan dilaksanakan di November, lanjut Taimur, telah membuat pelaku pasar lebih berhati-hati, mengingat gejolak di pasar dapat melonjak usai pemilu. Hal ini diramal akan menyebabkan permintaan likuiditas lebih besar dalam beberapa minggu.
 
"Namun demikian, pelaksanaan Pilpres AS diperkirakan tidak akan mengubah arah persaingan Tiongkok dan AS, sehingga tetap ada optimisme bahwa gejolak dan ketidakpastian ini akan mereda setelah masa Pilpres AS selesai," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif