Penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan logam mulia tersebut.
Pada pembukaan sesi Asia, harga emas dunia (XAU/USD) tercatat melemah dan diperdagangkan di sekitar level USD5.075 per troy ounce.
Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan akhir pekan lalu, meskipun sebelumnya emas sempat menguat pada sesi perdagangan Amerika Utara.
Penguatan yang terjadi pada Jumat lalu dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan pasar. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga mendorong investor beralih ke aset aman atau safe haven, termasuk emas.
Namun demikian, tekanan terhadap emas masih cukup kuat. Penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat minat investor terhadap logam mulia relatif terbatas.
Dari sisi teknikal, analis Dupoin Futures Andy Nugraha menilai pergerakan emas dalam jangka pendek masih menunjukkan kecenderungan bearish.
Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan indikator Moving Average, menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pergerakan harga.
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa potensi pelemahan masih terbuka jika belum ada katalis kuat yang mampu mendorong harga kembali naik dalam waktu dekat,” ujarnya.
Selain faktor teknikal, pasar juga tengah memantau perkembangan sejumlah indikator ekonomi
yang dapat memengaruhi arah harga emas. Salah satunya adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang memicu kekhawatiran terhadap peningkatan inflasi di Amerika Serikat.
Jika tekanan inflasi terus meningkat, bank sentral AS berpotensi mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kebijakan suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Akibatnya, sebagian investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Pelaku pasar saat ini juga menunggu rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Rabu pekan ini. Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.
Sejumlah ekonom memperkirakan Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 17–18 Maret mendatang. Bahkan, sebagian analis menilai peluang penurunan suku bunga baru akan muncul pada pertengahan 2026, sekitar Juni atau Juli.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi sempat memberikan dukungan sementara bagi harga emas. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS kehilangan sekitar 92.000 pekerjaan pada Februari, berbanding terbalik dengan proyeksi pasar yang sebelumnya memperkirakan penambahan sekitar 59.000 lapangan kerja.
Sementara itu, tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 4,4%, dari 4,3% pada Januari. Pelemahan pasar tenaga kerja tersebut berpotensi menekan dolar AS dalam jangka pendek dan memberikan ruang bagi penguatan aset berbasis dolar lainnya, termasuk emas.
Meski demikian, secara keseluruhan tekanan terhadap emas masih cukup besar. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta penguatan dolar secara luas membuat logam mulia ini diperkirakan mencatat penurunan mingguan hingga mendekati 2,5%.
Ketidakpastian ekonomi global juga meningkat setelah data penjualan ritel AS menunjukkan kontraksi sekitar 0,2% secara bulanan, yang menambah kekhawatiran terhadap perlambatan aktivitas ekonomi.
Secara teknikal, Andy Nugraha memproyeksikan bahwa apabila tren penurunan berlanjut, harga emas berpotensi bergerak menuju level support di kisaran 4.960. Level tersebut dinilai sebagai area penting yang akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam jangka pendek.
Sebaliknya, jika terjadi koreksi naik, maka area resistance di sekitar 5.139 menjadi target terdekat yang berpotensi diuji oleh harga.
Dengan kombinasi berbagai faktor tersebut, pergerakan emas dalam waktu dekat diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Para investor dan trader disarankan untuk terus mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve, serta perkembangan geopolitik global yang berpotensi memicu volatilitas di pasar komoditas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News