Ilustrasi produksi minyak mentah RI - - Foto: dok AFP
Ilustrasi produksi minyak mentah RI - - Foto: dok AFP

Sentimen Negatif Ini Masih Tahan Minyak Tetap Bearish

Ekonomi Ekspor minyak bumi Minyak Mentah Harga Minyak turun
Fetry Wuryasti • 25 April 2022 15:57
Jakarta: Harga minyak dunia masih melanjutkan tren bearish lantaran dibebani oleh sejumlah sentimen negatif meliputi sinyal peningkatan produksi Nigeria, kembali pulihnya jalur ekspor minyak dari pipa CPC, serta tanda-tanda pengetatan pembatasan di Shanghai yang berpotensi mengancam permintaan minyak dari Tiongkok.
 
Menteri Keuangan Nigeria Zainab Ahmed berharap meningkatkan produksi menjadi 1,6 juta barel minyak mentah per hari dalam satu atau dua minggu ke depan. Ahmed juga menambahkan, dalam satu bulan terakhir produksi sempat menyentuh level terendah di 1,2 juta bph akibat penutupan sumur yang dipicu oleh masalah kriminalitas.
 
"Nigeria merupakan produsen minyak terbesar di Afrika dan menempati posisi produsen terbesar ke-6 dalam OPEC dengan total produksi minyak mencapai sekitar 1,8 juta bph pada 2020," kata hasil analisis ICDX, Senin, 25 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Masih dari sisi pasokan, jalur pipa Caspian Pipeline Consortium (CPC) direncanakan akan kembali melanjutkan ekspor penuh mulai 22 April setelah perbaikan selama hampir 30 hari akibat serangan badai di Laut Hitam. Jalur pipa CPC membawa sekitar 1,2 juta bph minyak mentah utama Kazakhstan, berkontribusi sekitar 1,2 persen dari permintaan minyak global.
 
Namun, sejak akhir Maret, pemuatan dari terminal CPC hanya dapat dilakukan melalui satu dari tiga jalur pemuatan akibat kerusakan karena badai, yang berdampak memangkas ekspor minyak Kazakhstan hingga sepertiga dari jalur CPC.
 
Turut membebani pergerakan harga minyak, Tiongkok berpotensi memperketat pembatasan mobilitas, pasca otoritas kota Shanghai dilaporkan mendirikan pagar di luar bangunan tempat tinggal.
 
Kota terpadat sekaligus pusat keuangan Tiongkok tersebut melaporkan 51 kematian baru pada 24 April, naik dari 39 kematian pada hari sebelumnya. Tiongkok merupakan negara importir minyak terbesar pertama dunia, sehingga dengan adanya pembatasan yang lebih ketat, maka turut memicu kekhawatiran akan terjadinya penurunan aktivitas perjalanan yang sekaligus akan berdampak pada berkurangnya penggunaan bahan bakar.
 
Fokus pasar juga tertuju pada Uni Eropa (UE) yang dilaporkan sedang mempersiapkan sanksi yang salah satunya menargetkan embargo minyak Rusia. Penerapan sanksi tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak di UE, pasalnya Rusia merupakan pemasok minyak terbesar yang berkontribusi terhadap 26 persen dari total impor minyak UE.
 
"Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level USD105 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level USD95 per barel," pungkas Girta.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif