Ekonomi Jepang. Foto; AFP.
Ekonomi Jepang. Foto; AFP.

Surplus Transaksi Berjalan Jepang Anjlok Terbesar Sejak 2008

Arif Wicaksono • 09 November 2022 18:30
Tokyo: Surplus transaksi berjalan yang dialami Jepang mengalami penurunan tahunan terbesar pada paruh pertama tahun fiskal sejak krisis keuangan global 2008. Hal ini karena neraca perdagangan jatuh ke dalam defisit karena melemahnya yen dan naiknya harga komoditas global.
 
baca juga: Lawan Intervensi Pemerintah Jepang, Dolar AS Naik Tipis terhadap Yen

Dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 9 November 2022, pada periode April-September, surplus transaksi berjalan Jepang turun lebih dari setengah tahun sebelumnya, turun 58,6 persen menjadi 4,8458 triliun yen (USD33,36 miliar).  
 
Itu adalah penurunan terbesar sejak paruh kedua tahun fiskal 2008 dan terbesar kedua sejak data pembanding tersedia pada 1985. Surplus transaksi turun ke level pada 2014 ketika kenaikan harga minyak membuat neraca perdagangan Jepang menjadi merah.
 
Sementara itu, Jepang mencatat rekor surplus pendapatan primer sebesar 18,2332 triliun yen pada paruh pertama tahun fiskal ini karena kenaikan harga komoditas global mendorong keuntungan di perusahaan perdagangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penurunan 22 persen yen terhadap dolar membantu meningkatkan nilai keuntungan dari investasi luar negeri. Keuntungan pendapatan lebih dari mengimbangi defisit perdagangan sebesar 9,2334 triliun yen.
 
Data tersebut menyoroti pergeseran yang sedang berlangsung dalam sumber pendapatan utama Jepang, dari perdagangan menuju pengembalian dari investasi luar negeri.
 
Surplus transaksi berjalan Jepang telah lama dianggap sebagai tanda kekuatan ekspor dan sumber kepercayaan pada safe-haven yen, tetapi surplus tersebut kadang-kadang jatuh ke dalam defisit bulanan dalam beberapa tahun terakhir.
 
Untuk September, surplus transaksi berjalan Jepang mencapai 909,3 miliar yen, di atas perkiraan median ekonom untuk surplus 234,5 miliar yen dalam jajak pendapat Reuters.
 
Sementara pelemahan yen membuat impor lebih mahal, itu juga membuat ekspor lebih murah bagi pembeli asing.
 
Tetapi dorongan ekspor dari yen yang lebih lemah kemungkinan akan lebih terbatas dari yang diharapkan karena perusahaan telah mengalihkan produksi mereka ke luar negeri selama tiga dekade terakhir.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif