Teheran juga mengklaim telah menggunakan rudal canggih untuk menyerang kapal perang Amerika Serikat. Klaim tersebut langsung dibantah militer AS yang mengatakan kapal perangnya berhasil menghindari serangan rudal.
Dikutip dari The Strait Times, situasi ini menambah kekhawatiran perang yang sudah berlangsung sekitar enam bulan tersebut bisa kembali memanas. Apalagi, pola konflik Iran-AS belakangan seperti roller coaster yang sempat mereda, lalu tiba-tiba kembali terjadi serangan.
| Baca juga: Iran Bersedia Buka Akses Selat Hormuz Jika AS Penuhi Syarat Ini |
AS terakhir kali melaporkan serangan terhadap sasaran Iran pada 5 September. Saat itu, pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran. Sehari kemudian, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menggunakan rudal Qassem Basir dalam serangan terhadap sejumlah kapal AS.
Namun, ketegangan tidak berhenti di laut. Konflik juga mulai terasa di kawasan Teluk. Milisi Houthi yang didukung Iran dilaporkan menyerang sejumlah kota di Arab Saudi pada 8 September. Serangan tersebut menyebabkan 73 orang terluka, menurut juru bicara koalisi pimpinan Saudi di Yaman.
Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa konflik Iran-AS berpotensi berubah menjadi masalah regional yang jauh lebih besar, terutama ketika jalur diplomasi sedang mandek.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Salah satu masalah terbesar saat ini adalah Selat Hormuz. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan salah satu rute paling penting bagi perdagangan energi dunia. Sebelum perang, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global melewati kawasan ini. Oleh karena itu, setiap gangguan di Selat Hormuz bisa langsung bikin pasar energi ikut deg-degan.Amerika Serikat berusaha membuka kembali jalur tersebut. Namun, Iran masih terus mengganggu pelayaran dan membuat lalu lintas kapal pengangkut komoditas kembali melambat pada pekan ini.
Teheran bahkan berencana mengumumkan zona terlarang baru di Teluk, sekaligus peta koridor pelayaran baru yang akan melewati Selat Hormuz. Detail mengenai zona tersebut belum diumumkan. Namun, pejabat Iran sudah memberikan gambaran bahwa aturan baru itu bakal cukup keras.
Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan zona terbatas tersebut akan dimulai dari wilayah tempat blokade AS terhadap Iran dimulai dan diperluas hingga kawasan Teluk. Menurut Rezaei, kapal yang memasuki zona tersebut bisa dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran.
Pada 8 September, Rezaei kembali mempertegas ancaman tersebut melalui media sosial X. Ia mengatakan Washington telah menerima “peringatan jelas” melalui rudal-rudal baru Iran. Menurutnya, perang ekonomi akan dihadapi dengan pembentukan zona eksklusi maritim di sepanjang Teluk Persia.
Iran juga menyatakan telah mengubah postur operasionalnya terhadap kapal perang dan pangkalan militer AS. Ancaman tersebut kemungkinan merujuk pada rudal balistik Qassem Basir, yang menurut media Iran digunakan untuk menyerang kapal perang AS di dekat Selat Hormuz. Meski begitu, militer AS menyatakan tidak ada kapal perangnya yang terkena serangan rudal.
Iran Masih Punya “Senjata Andalan”
Serangan militer besar-besaran AS memang telah melemahkan kemampuan konvensional Iran sekaligus menekan ekonomi negara tersebut.Tetapi Iran belum kehilangan kartu asnya. Teheran masih memiliki rudal dan drone yang dapat digunakan untuk mengancam kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Iran juga masih bisa menyerang negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Salah satu senjata yang kini banyak disorot adalah Qassem Basir. Iran menyebut rudal tersebut sebagai versi yang telah ditingkatkan, dengan kemampuan manuver lebih baik sehingga diklaim lebih sulit dicegat sistem pertahanan rudal. Rudal tersebut juga disebut memiliki sistem panduan yang mampu bekerja dalam kondisi peperangan elektronik.
Kantor berita Fars melaporkan Qassem Basir pertama kali digunakan dalam pertempuran pada Juni 2025 dalam konflik melawan Israel.
Masalahnya, konflik ini bukan cuma soal rudal dan kapal perang. Harga energi global juga ikut dipertaruhkan. Selama Selat Hormuz terganggu, pasar minyak dan gas global berpotensi mengalami tekanan. Kondisi tersebut sudah membuat harga energi naik di tengah perang.
Bagi Amerika Serikat, situasi ini juga punya konsekuensi politik. Jajak pendapat menunjukkan perang tersebut tidak populer di AS. Harga energi yang tinggi berpotensi menjadi masalah bagi Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump menjelang pemilihan kongres pada November.
Trump sendiri tetap optimistis perang tersebut pada akhirnya bakal membuat harga minyak turun. “Harga minyak akan turun drastis ketika kita menang perang dengan Iran,” kata Trump melalui media sosial. Ia bahkan memprediksi harga bensin bisa turun hingga di bawah USD2 per galon.
Namun, sejauh ini target perang yang ditetapkan Trump belum sepenuhnya tercapai. Ketika meluncurkan “Operasi Epic Fury” pada Februari, Trump berjanji akan menghentikan program nuklir Iran, melumpuhkan kemampuan Iran menyerang negara-negara tetangganya, serta menciptakan kondisi yang memungkinkan kepemimpinan Iran tumbang. Nyatanya, kepemimpinan Iran masih bertahan di Teheran.
Para pemimpin agama Iran juga masih bertekad keluar dari konflik dengan posisi yang lebih kuat. Mereka terus menuntut pelonggaran sanksi ekonomi dan berharap pada akhirnya dapat membuat kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz membayar mahal.
Dengan kata lain, perang Iran-AS belum benar-benar menemukan tombol “pause”. Dan selama Selat Hormuz masih menjadi arena tarik-ulur kedua negara, efeknya bukan cuma dirasakan Iran dan Amerika Serikat. Harga minyak, perdagangan global, hingga negara-negara lain di kawasan Teluk bisa ikut kena imbasnya.