Mengutip Xinhua, Jumat, 1 Mei 2020, indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, tergelincir 0,55 persen menjadi 99,0248 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,0951 dari USD1,0870 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2599 dari USD1,2450 di sesi sebelumnya.
Dolar Australia turun menjadi USD0,6523 dibandingkan dengan USD0,6540. Dolar AS membeli 107,20 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 106,59 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9655 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9755 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3922 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3898 dolar Kanada.
Greenback telah berada di bawah tekanan baru-baru ini karena upaya bank sentral global untuk mengimbangi dampak covid-19, dan harapan untuk membuka kembali ekonomi membantu meningkatkan selera risiko. Adapun kondisi itu mengurangi permintaan untuk mata uang safe haven.
Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat berakhir lebih rendah pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB), karena sentimen pasar tertekan oleh serangkaian data ekonomi yang suram. Di sisi lain, penyebaran virus korona yang luas di AS masih tetap memberikan efek negatif dan memengaruhi gerak pasar saham.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 288,14 poin atau 1,17 persen menjadi 24.345,72. Sedangkan S&P 500 turun 27,08 poin atau 0,92 persen menjadi 2.912,43. Kemudian indeks Komposit Nasdaq turun 25,16 poin atau 0,28 persen menjadi 8.889,55.
Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 melemah, dengan sektor bahan dan keuangan masing-masing turun 2,96 persen dan 2,68 persen, memimpin sektor lainnya. Meskipun mengalami kerugian pada Kamis waktu setempat, namun rata-rata saham utama mencatatkan kenaikan bulanan yang solid.
Adapun indeks Dow Jones menguat 11,1 persen pada April, S&P 500 melonjak 12,7 persen, dan Nasdaq naik 15,5 persen untuk bulan ini. Sepanjang April, indeks utama di bursa saham AS terus dipengaruhi covid-19 yang ujungnya memperlambat pertumbuhan ekonomi Paman Sam.
Klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, tercatat sebanyak 3,839 juta dalam pekan yang berakhir 25 April, Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan. Pencapaian itu membuat jumlah penuntut dalam enam minggu terakhir menjadi sekitar 30 juta di tengah pandemi covid-19.
"Covid-19 terus memengaruhi jumlah klaim awal dan pengangguran yang diasuransikan," catat Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Sedangkan menurut Biro Analisis Ekonomi penghasilan pribadi AS turun dua persen di Maret dan pengeluaran konsumsi pribadi anjlok ke rekor 7,5 persen bulan lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News