Mengutip Channel News Asia, Selasa, 22 Desember 2020, anggaran tahunan sebesar 106,6 triliun yen atau setara USD1,03 triliun itu tercatat naik sebanyak empat persen dibandingkan dengan level awal di tahun ini. Kemudian naik selama sembilan tahun berturut-turut, dengan utang baru senilai 43,6 triliun yen.
Dari Eropa hingga Amerika, pembuat kebijakan secara global telah mengeluarkan ledakan stimulus moneter dan fiskal. Langkah itu untuk mencegah resesi yang dalam dan berkepanjangan karena pandemi covid-19 menutup perbatasan internasional dan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan.
Di Jepang, reformasi fiskal telah ditangguhkan karena Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga lebih memprioritaskan upaya untuk mengatasi pandemi covid-19 dan mendorong pertumbuhan untuk menopang pendapatan pajak. Sedangkan rencana pengeluaran itu harus disetujui oleh parlemen pada awal tahun depan.
Draf anggaran sebesar USD1,03 triliun akan diluncurkan bersamaan dengan anggaran tambahan ketiga pada tahun fiskal sebagai anggaran gabungan 15 bulan. Tujuannya guna meringankan rasa sakit akibat hantaman covid-19 dan mendukung tujuan Suga untuk mencapai netralitas karbon dan transformasi digital.
Pemerintah Jepang berharap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil mencapai empat persen untuk tahun fiskal berikutnya, lebih baik daripada prediksi ekonom sebesar 3,4 persen. Jika ekonomi justru melemah maka imbasnya mengikis pendapatan pajak dan memberikan kepastian akan ada lebih banyak pinjaman untuk mengisi kesenjangan anggaran.
Defisit anggaran utama fiskal 2021 Pemerintah Jepang -tidak termasuk penjualan obligasi baru dan pembayaran utang- terlihat pada posisi 20,4 triliun yen atau lebih dari dua kali lipat perkiraan awal tahun ini, membuat tujuan penyeimbangan anggaran semakin sulit dilakukan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News