Dalam penilaian bulanan yang disetujui oleh Kabinet, pemerintah menunjuk situasi virus domestik dan luar negeri sebagai risiko penurunan yang nyata bagi pemulihan ekonomi negara. Tak ditampik, pandemi covid-19 menjadi indikator utama yang memengaruhi aktivitas perekonomian suatu negara.
"Perekonomian terus meningkat di tengah kondisi parah akibat virus korona, tetapi lajunya baru-baru ini melambat," kata pemerintah dalam laporannya, dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 17 September 2021.
Di antara elemen ekonomi utama, pihak berwenang menurunkan pandangan mereka tentang produksi untuk pertama kalinya dalam 17 bulan, dan konsumsi swasta untuk pertama kalinya dalam empat bulan.
"Produksi mobil melemah akhir-akhir ini karena kekurangan pasokan suku cadang akibat wabah covid-19 di Asia Tenggara telah berdampak material pada pembuat mobil," kata seorang pejabat pemerintah kepada wartawan sebelum Kabinet menyetujui laporan tersebut.
Bersama dengan kekurangan cip dan pemulihan yang melambat di negara-negara ekonomi utama seperti Tiongkok, laporan pemerintah meningkatkan kemungkinan pengurangan produksi menyebar ke sektor lain di luar pembuat mobil.
Di dalam negeri, penurunan penjualan mobil baru dan elektronik rumah tangga menunjukkan bahwa konsumen menjadi lebih berhati-hati dan menjaga dompet mereka ketat tidak hanya untuk layanan tetapi juga untuk barang.
Meski demikian, pemerintah meningkatkan pandangannya tentang konstruksi rumah mengingat meningkatnya permintaan untuk rumah pinggiran kota dan kamar sewaan di kota-kota. "Penurunan peringkat prospek ekonomi secara keseluruhan mencerminkan perlambatan pemulihan ekonomi Jepang, bukan perubahan arah," kata pejabat pemerintah.
Laporan itu muncul hanya beberapa minggu sebelum akhir masa jabatan Perdana Menteri Yoshihide Suga ketika dia mengumumkan awal bulan ini bahwa dia tidak akan mencalonkan diri lagi dalam pemilihan kepemimpinan partai yang berkuasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News