Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Rencana G7 Batasi Harga Minyak Rusia Dinilai Sulit Dilakukan

Angga Bratadharma • 10 Juli 2022 11:31
New York: Tujuh ekonomi industri terbesar di dunia atau G7 telah melontarkan gagasan pembatasan harga minyak Rusia untuk lebih menekan kemampuan Kremlin mendanai gencarnya serangan di Ukraina. Langkah itu juga diklaim sebagai upaya melindungi konsumen di tengah melonjaknya harga energi.
 
Mengutip CNBC International, Minggu, 10 Juli 2022, namun upaya G7 mencapai batas harga minyak Rusia bukan tanpa tantangan, dengan para analis energi sangat skeptis tentang hal tersebut. Untuk bagiannya, Kremlin telah memperingatkan setiap upaya mengenakan batasan harga pada minyak Rusia akan menyebabkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan.
 
Amerika Serikat (AS) tampaknya menjadi pendukung terbesar dari pembatasan harga minyak Rusia. Sedangkan Menteri Keuangan AS Janet Yellen menjelaskan gagasan itu kepada rekan-rekannya di Eropa. Ia mengatakan itu akan berfungsi sebagai tarif atau batas atas minyak Rusia dan membantu Eropa dalam periode sementara sampai memberlakukan larangan penuh.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Uni Eropa setuju pada akhir Mei untuk memberlakukan embargo bertahap pada minyak Rusia hingga akhir 2022 –setelah beberapa minggu negosiasi alot di antara 27 negara. Blok itu dulu menerima sekitar 25 persen dari impor minyaknya dari Rusia dan mewakili salah satu pembeli terpenting bagi Kremlin.
Baca: Sandiaga Fokus Bangun Pariwisata Berkelanjutan

Adapun menghentikan pembelian minyak ini adalah upaya untuk melukai ekonomi Rusia setelah invasi tak beralasan ke Ukraina. Akan tetapi hal itu sulit untuk diakhiri dalam semalam mengingat bagaimana beberapa negara Uni Eropa sangat bergantung pada bahan bakar fosil Rusia.
 
Presiden AS Joe Biden mempresentasikan gagasan pembatasan harga minyak kepada para pemimpin G7 lainnya selama akhir pekan di 25 dan 26 Juni, dan rekan-rekannya setuju untuk melihat bagaimana melakukannya. G7 terdiri dari AS, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Inggris, dan Jepang.
 
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan gagasan itu sangat ambisius dan membutuhkan banyak pekerjaan  sebelum menjadi kenyataan.
 
"Kami berbagi kekhawatiran dengan negara-negara G7 tentang beban kenaikan harga energi dan ketidakstabilan pasar, dan bagaimana ini memperburuk ketidaksetaraan secara nasional dan internasional," kata Seorang Juru Bicara Komisi Eropa, badan eksekutif UE.
 
"Dalam konteks ini, seperti yang ditugaskan oleh para pemimpin Eropa, Komisi akan melanjutkan pekerjaan kami tentang cara mengekang kenaikan harga energi, termasuk menilai kelayakan memperkenalkan batasan harga impor sementara jika sesuai," pungkas juru bicara yang sama.
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif