Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Jepang: Sulit untuk Konfirmasi Dampak Default Utang Rusia

Angga Bratadharma • 03 Juli 2022 15:05
Tokyo: Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki mengatakan sedikit sulit saat ini untuk mengkonfirmasi dampak pasti pada Jepang dari default utang Rusia. Adapun Moskow disebut telah gagal bayar utang untuk pertama kalinya di tengah invasi yang dilakukan terhadap Ukraina.
 
Suzuki, yang mengomentari masalah ini setelah ditanya oleh wartawan pada konferensi pers setelah rapat kabinet reguler, menambahkan setiap langkah dalam obligasi Pemerintah Rusia kemungkinan berdampak terbatas pada investor Jepang.
 
"Rasio investasi di Rusia sebagai bagian dari keseluruhan investasi obligasi luar negeri Jepang terbatas. Pergerakan obligasi Pemerintah Rusia kemungkinan mengakibatkan kerugian langsung terbatas bagi investor Jepang, termasuk lembaga keuangan," kata Suzuki, dilansir dari Channel News Asia, Minggu, 3 Juli 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gedung Putih dan lembaga kredit Moody's mengatakan Rusia telah gagal membayar obligasi internasionalnya untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu abad. Kremlin, yang memiliki uang untuk melakukan pembayaran berkat pendapatan minyak dan gas, telah menolak klaim mereka telah gagal membayar utang luar negerinya.
Baca: Pemerintah Diminta Tak Terkecoh dengan Stok Beras

Di sisi lain, Rusia mengatakan dua dari pembayaran utangnya diblokir untuk mencapai kreditur yang imbasnya mendorong negara itu lebih dekat ke gagal bayar pertama kalinya dalam satu abad. Hal itu dikarenakan pengenaan sanksi atas serangan Moskow terhadap Ukraina.
 
Pengumuman itu datang pada hari ke-124 intervensi militer Rusia di Ukraina, dengan sanksi Barat sejauh ini gagal memaksa Kremlin untuk mengubah arahnya. Hukuman ekonomi Barat sebagian besar telah memutuskan negara itu dari sistem keuangan internasional, sehingga sulit bagi Moskow untuk membayar utangnya.
 
Pihak berwenang Rusia bersikeras mereka memiliki dana untuk membayar utang negara itu dan menyebut kesulitan tersebut sebagai lelucon. Negara yang dipimpin Vladimir Putin ini menuduh Barat berusaha mendorong Moskow ke default secara artifisial.
 
"Tidak ada alasan untuk menyebut situasi ini sebagai default. Klaim mereka tentang default ini benar-benar salah," pungkas Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, setelah batas waktu pembayaran utama berakhir pada Minggu waktu setempat.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif