Iran. Foto: Freepik.
Iran. Foto: Freepik.

Iran Kecam Pernyataan AS yang Dinilai Bertentangan dengan Isi MoU Perdamaian

Arif Wicaksono • 26 Juni 2026 08:46
Jakarta: Pemerintah Iran mengecam pernyataan sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) yang dinilai memberikan interpretasi berbeda terhadap isi nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perdamaian yang baru ditandatangani kedua negara.
 
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, meminta Washington menghentikan pernyataan-pernyataan yang menurutnya tidak sejalan dengan isi dokumen yang telah disepakati bersama. Pernyataan itu disampaikan melalui akun resminya di platform media sosial X pada Rabu (24/6).
 
Baca juga:  Donald Trump Klaim Dana Aset Iran untuk Pembelian Produk Pertanian AS

Baghaei menilai sejumlah komentar dari pejabat AS justru bertentangan dengan substansi MoU dan berpotensi memperbesar keraguan publik Iran terhadap komitmen Washington dalam menjalankan kesepakatan tersebut.
 
Menurutnya, pernyataan yang mengklaim perang telah berakhir tidak akan membantu membangun kepercayaan antara kedua negara. Sebaliknya, narasi tersebut hanya mengingatkan masyarakat Iran pada pengalaman masa lalu ketika berbagai komitmen dinilai tidak dipenuhi oleh pemerintah AS.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Amerika belum pernah menunjukkan konsistensi dan ketulusan dalam hubungannya dengan Iran. Meski demikian, Teheran tetap memilih jalur diplomasi dan memasuki proses negosiasi dengan itikad baik hingga akhirnya menyepakati penandatanganan MoU.
 
Baghaei mengatakan rakyat Iran memahami bahwa penandatanganan nota kesepahaman bukan berarti seluruh persoalan antara kedua negara langsung berakhir. Menurutnya, pengalaman selama lebih dari lima dekade hubungan yang penuh ketegangan, termasuk dinamika dalam 18 bulan terakhir, membuat masyarakat tetap bersikap hati-hati terhadap setiap perkembangan diplomatik.
 
Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman tersebut pada 18 Juni sebagai langkah awal untuk menghentikan konflik di berbagai kawasan, termasuk di Lebanon. Kesepakatan itu dipandang sebagai fondasi bagi proses diplomasi yang lebih luas guna meredakan ketegangan di Timur Tengah.
 
Dalam MoU tersebut, kedua negara sepakat menjalani proses perundingan selama 60 hari. Negosiasi yang kini masih berlangsung itu difokuskan pada penyusunan kesepakatan akhir yang mencakup penyelesaian isu program nuklir Iran, mekanisme pencabutan sanksi ekonomi terhadap Teheran, serta berbagai langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas kawasan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan