Menurutnya, dana tersebut pada akhirnya dapat kembali mengalir ke ekonomi Amerika Serikat melalui pembelian kebutuhan pangan dan produk pertanian.
| Baca juga: Donald Trump Dorong Gencatan Senjata Menyeluruh di Timur Tengah |
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Senin (22/6), setelah pemerintah AS membuka ruang terbatas terhadap transaksi terkait minyak Iran melalui kebijakan terbaru Departemen Keuangan.
Trump menilai, apabila pelonggaran sanksi benar-benar dilakukan, Iran diperkirakan akan menggunakan sebagian besar dananya untuk memenuhi kebutuhan domestik, termasuk impor komoditas pangan.
“Jika sanksi dicabut, uang itu akan kembali ke negara ini melalui pembelian bahan pangan yang mereka butuhkan,” ujar Trump dikutip dari Antara.
Ia menambahkan bahwa sektor pertanian Amerika berpotensi menjadi salah satu pihak yang memperoleh manfaat terbesar dari skenario tersebut. Menurutnya, produk seperti jagung dan kedelai dapat menjadi komoditas utama yang dibeli Iran.
Meski demikian, saat ditanya bagaimana pemerintah AS akan memastikan dana hasil penjualan minyak tidak digunakan Iran untuk memperkuat kemampuan militernya, Trump belum memberikan kepastian.
“Kita lihat nanti. Mereka seharusnya menggunakan uang itu untuk kebutuhan rakyat, bukan untuk hal lain,” katanya.
Sebelumnya, Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) di bawah Departemen Keuangan AS mengeluarkan izin umum yang memungkinkan aktivitas tertentu terkait penjualan minyak mentah dan produk petrokimia Iran hingga 21 Agustus. Kebijakan tersebut membuka ruang bagi proses penjualan, pengiriman, hingga pembongkaran produk yang diatur dalam izin tersebut.
Di saat yang sama, perkembangan diplomatik antara Washington dan Teheran juga mulai menunjukkan perubahan. Pekan lalu, kedua negara menandatangani memorandum secara jarak jauh yang menjadi dasar penghentian konflik militer yang berlangsung sejak akhir Februari.
Kesepakatan itu juga mencakup komitmen pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran dan pemulihan aktivitas pelayaran di kawasan Selat Hormuz. Proses negosiasi antara kedua negara berlangsung di Burgenstock, Swiss, dengan dukungan mediasi dari Pakistan dan Qatar.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda