Foto: AFP/Angela Weiss.
Foto: AFP/Angela Weiss.

Resesi, Ekonomi AS Minus 32,9% di Kuartal II-2020

Ekonomi ekonomi amerika
Angga Bratadharma • 31 Juli 2020 11:18
Washington: Ekonomi Amerika Serikat (AS) terkontraksi cukup tajam yakni minus 32,9 persen di kuartal II-2020. Pelemahan yang sangat dalam itu menunjukkan parahnya hantaman virus korona yang memicu resesi ekonomi Paman Sam, terlebih kasus infeksinya terus meningkat hingga sekarang ini.
 
"Ekonomi AS mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar 32,9 persen pada kuartal kedua," ungkap Departemen Perdagangan AS, dikutip dari Xinhua, Jumat, 31 Juli 2020.
 
Kondisi itu merupakan penurunan terdalam sejak Pemerintah AS mulai membuat catatan pertumbuhan ekonomi pada 1947. Sedangkan di kuartal pertama 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) riil mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar lima persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penurunan PDB riil mencerminkan penurunan pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ekspor, investasi inventaris swasta, investasi tetap non-perumahan, investasi tetap perumahan, dan pengeluaran pemerintah negara bagian dan lokal.
 
"Yang sebagian diimbangi oleh peningkatan pengeluaran pemerintah federal," ungkap Biro Analisis Ekonomi.
 
Pengeluaran konsumsi pribadi jatuh pada tingkat tahunan 34,6 persen di kuartal kedua, berkontribusi 25 persen terhadap PDB di kuartal tersebut. Investasi tetap non-perumahan, yang mencerminkan pengeluaran bisnis, turun 27 persen pada kuartal kedua, mengurangi 3,62 persentase terhadap PDB.
 
Satu-satunya pertumbuhan yang terjadi yakni kenaikan 17,4 persen dalam pengeluaran pemerintah federal, yang sebagian besar mencerminkan biaya administrasi pinjaman Program Perlindungan Paycheck (PPP) untuk usaha kecil yang diperpanjang selama kuartal tersebut.
 
Jason Furman, Profesor di Universitas Harvard dan mantan penasihat ekonomi untuk Presiden Barack Obama, mengatakan pengeluaran pemerintah negara bagian dan lokal turun dengan tingkat tahunan 5,6 persen pada kuartal kedua, yang artinya bukan kontributor terbesar penurunan dalam PDB tetapi seharusnya tidak harus terjadi.
 
"Ini mudah-mudahan kuartal negatif terakhir yang akan kita lihat untuk tingkat PDB. Mudah-mudahan kuartal negatif terakhir ini akan kita lihat juga untuk konsumsi. Tetapi jika tidak ada tindakan cepat dan substansial maka penurunan 5,6 persen dalam pengeluaran negara bagian dan lokal bisa-bisa hanya menjadi sebuah awal," pungkas Furman.
 

(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif