Taksi Uber. Foto: Unsplash.
Taksi Uber. Foto: Unsplash.

Uber Rumahkan 3.300 Orang, Robotaxi Jadi Threat Baru

Arif Wicaksono • 03 September 2026 13:52
Ringkasnya gini..
  • Uber Technologies kembali melakukan perombakan besar-besaran. Perusahaan ride-hailing asal Amerika Serikat itu akan memangkas sekitar 3.300 posisi, atau sekitar 10% dari total karyawannya.
  • Langkah terbaru ini merupakan PHK terbesar Uber sejak Mei 2020. Saat pandemi menghantam permintaan layanan transportasi, Uber kala itu memangkas sekitar 6.700 pekerjaan, atau hampir seperempat dari total karyawannya.
San Fransisco: Uber Technologies kembali melakukan perombakan besar-besaran. Perusahaan ride-hailing asal Amerika Serikat itu akan memangkas sekitar 3.300 posisi, atau sekitar 10% dari total karyawannya.

Ini menjadi PHK terbesar Uber sejak pandemi COVID-19. Langkah tersebut dilakukan ketika bisnis transportasi online Uber menghadapi perubahan besar, terutama karena robotaxi atau kendaraan tanpa pengemudi mulai semakin agresif masuk ke pasar.

CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan keputusan ini bukan sekadar soal memangkas biaya. Perusahaan ingin membuat struktur organisasi lebih sederhana agar proses pengambilan keputusan tidak terlalu berbelit.
 
Baca juga: Lyft PHK Lagi, Kewalahan Lawan Uber?

Menurut Khosrowshahi, pertumbuhan Uber dalam beberapa tahun terakhir membuat struktur manajemen semakin kompleks. Kondisi tersebut justru membuat perusahaan membutuhkan lebih banyak koordinasi sebelum mengambil keputusan.

“Organisasi yang lebih ramping akan membuat tanggung jawab lebih jelas, keputusan lebih cepat, dan waktu lebih banyak digunakan untuk membangun bisnis,” kata Khosrowshahi dikutip dari Channel News Asia. 

Menariknya, Uber tidak menjadikan kecerdasan buatan atau AI sebagai alasan utama di balik PHK tersebut.

Padahal, AI sedang menjadi salah satu alasan utama perusahaan teknologi memangkas tenaga kerja. Berdasarkan pelacakan lebih dari 123.000 pekerja di hampir 390 perusahaan telah terdampak PHK sepanjang tahun ini.

Uber justru mengatakan efisiensi dari restrukturisasi tersebut akan digunakan kembali untuk membiayai area yang dianggap penting, termasuk pertumbuhan, inovasi, dan teknologi.

Respons pasar sejauh ini cukup positif. Saham Uber naik hampir 2% setelah pengumuman PHK.
Meski begitu, saham Uber masih tertinggal dari indeks S&P 500 dan pesaingnya, Lyft, sepanjang tahun ini. Saham Uber tercatat turun hampir 8% di tengah kekhawatiran mengenai persaingan yang semakin ketat.

Persaingan Uber juga semakin ramai di bisnis pesan-antar makanan. Uber Eats harus menghadapi tekanan dari pemain seperti DoorDash, Instacart, serta berbagai platform pengiriman lokal.

Untuk memperbesar skala bisnisnya, Uber bahkan mengambil langkah agresif melalui kesepakatan besar, termasuk rencana akuisisi bisnis Delivery Hero senilai USD14,8 miliar.
Namun tantangan yang lebih besar justru datang dari perkembangan robotaxi.

Robotaxi mulai mengusik bisnis Uber

Salah satu nama yang paling diperhatikan Uber adalah Waymo, operator robotaxi terbesar di Amerika Serikat.

Waymo saat ini menjalankan layanan robotaxi melalui aplikasi Uber di Austin dan Atlanta. Pada saat yang sama, Waymo juga mulai memperluas operasinya ke sejumlah kota tanpa bergantung pada Uber. Tesla pun semakin serius mengembangkan layanan kendaraan tanpa pengemudi.

Situasi ini menjadi tantangan bagi model bisnis Uber. Selama ini, salah satu kekuatan Uber adalah menjadi penghubung antara pengemudi dan penumpang. Jika kendaraan tanpa pengemudi semakin banyak digunakan, peran tersebut berpotensi berubah.

Uber tidak memilih untuk sekadar menonton perkembangan robotaxi. Perusahaan berencana menginvestasikan lebih dari USD10 miliar dalam bisnis robotaxi dalam beberapa tahun ke depan.

Uber ingin bekerja sama dengan perusahaan teknologi kendaraan otonom sekaligus memastikan platformnya tetap menjadi tempat utama bagi konsumen untuk memesan kendaraan tanpa pengemudi.

Analis Cambiar Investors Adam Ballantyne menilai perubahan kebutuhan tenaga kerja Uber tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kendaraan otonom.

Menurut dia, bisnis yang berbasis teknologi autonomous vehicle membutuhkan jenis tenaga kerja dan struktur organisasi yang berbeda dibandingkan bisnis yang selama ini bergantung pada jutaan pengemudi manusia.

Restrukturisasi Uber juga menyasar struktur internal perusahaan. Uber akan memangkas sekitar 20% jumlah karyawan yang berada tujuh lapis atau lebih di bawah CEO. Perusahaan juga akan mengurangi hampir setengah jumlah tim yang hanya memiliki satu atau dua bawahan langsung.

Sejumlah tim akan digabungkan dan Uber akan memusatkan sebagian besar karyawan di sejumlah lokasi utama.

Kebijakan kerja jarak jauh juga diperketat. Perusahaan menargetkan hanya sekitar 1% karyawan yang dapat bekerja secara remote, sementara kebijakan bekerja dari kantor tiga hari dalam seminggu tetap dipertahankan.

Uber Lakukan PHK terbesar sejak 2020

Langkah terbaru ini merupakan PHK terbesar Uber sejak Mei 2020. Saat pandemi menghantam permintaan layanan transportasi, Uber kala itu memangkas sekitar 6.700 pekerjaan, atau hampir seperempat dari total karyawannya.

Kini kondisinya berbeda. Uber tidak sedang menghadapi jatuhnya permintaan seperti pada masa pandemi. Perusahaan justru tengah menyiapkan diri menghadapi babak baru industri transportasi yang semakin dipenuhi teknologi otomatisasi.

Uber juga menghadapi persoalan lain terkait biaya penggunaan AI. Laporan media menyebut karyawan perusahaan telah menghabiskan seluruh anggaran AI untuk 2026 hanya dalam waktu empat bulan.

Hingga akhir tahun lalu, Uber memiliki sekitar 34.000 karyawan di seluruh dunia berdasarkan laporan tahunannya.

Dengan restrukturisasi terbaru ini, Uber tampaknya ingin organisasi harus lebih ramping, sementara investasi justru diarahkan lebih besar ke teknologi dan bisnis masa depan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan