World EconomiC Forum. Foto: Unsplash.
World EconomiC Forum. Foto: Unsplash.

Danantara Tampil di WEF 2026, Sinyal Positif bagi Arah Baru Ekonomi Indonesia

Arif Wicaksono • 16 Januari 2026 19:09
Jakarta: Kembalinya Indonesia ke panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, melalui kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto bersama Badan Pengelola Investasi Danantara (Danantara Indonesia), dipandang sebagai momentum penting bagi penguatan posisi ekonomi nasional di mata dunia.
 
Forum ekonomi global yang mempertemukan para kepala negara, pemimpin korporasi, investor, akademisi, hingga inovator teknologi ini dinilai strategis, mengingat Indonesia telah absen selama sekitar satu dekade dari agenda WEF tingkat presiden. Tahun ini, WEF mengusung tema “A Spirit of Dialogue” dan akan berlangsung pada 19–23 Januari 2026.
 

Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Dradjad Wibowo, menilai kehadiran kembali Indonesia di Davos membawa pesan kuat kepada komunitas global. Menurutnya, WEF merupakan ruang berkumpulnya aktor-aktor kunci dalam jaringan keuangan, investasi, dan inovasi dunia.
 
"Tampilnya kembali Indonesia di forum ini memberikan angin segar buat kemajuan ekonomi Indonesia. Itu forum tepat, para tokoh dan orang kuat di jaringan keuangan, investasi, bisnis, dan inovasi hadir di sana,” kata Peneliti Senior INDEF, Dradjad Wibowo. 

Ia menambahkan, partisipasi Danantara Indonesia di WEF memiliki arti strategis, khususnya untuk menjelaskan arah dan kebijakan pengelolaan investasi negara. Danantara, yang diproyeksikan mengelola aset negara hingga sekitar US$1 triliun, dinilai perlu memanfaatkan forum ini untuk membangun kepercayaan investor internasional.
 
Lebih lanjut, ia menilai WEF juga menjadi panggung penting bagi Danantara untuk menjelaskan peran dan raison d’être pembentukan sovereign wealth fund Indonesia kepada para konglomerat dunia, pemimpin negara, serta pelaku inovasi teknologi.
 
Dradjad meyakini, jika kehadiran Indonesia dan Danantara di WEF 2026 dimanfaatkan secara optimal, hal tersebut dapat membuka jalan masuknya investasi berkualitas. Namun, ia mengingatkan bahwa tindak lanjut pasca-WEF menjadi faktor krusial.
 
“Untuk itu patut dijaga. Setelah dari WEF, persiapkan segalanya, supaya saat riset mereka atau intelijen bisnis mereka datang, mereka melihat yang membuat mereka mau masuk, dan nyaman dengan iklim dan ekosistemnya,” ujarnya.
 
Sejarah mencatat, terakhir kali Presiden Indonesia hadir di WEF adalah pada 2011, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato mengenai ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan. Pada WEF 2026, Presiden Prabowo dijadwalkan hadir bersama CEO Danantara Rosan Roeslani serta sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
 
Sementara itu, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, menyatakan partisipasi Danantara di WEF 2026 akan dimaksimalkan sebagai sarana membangun keterlibatan strategis dengan komunitas global.
 
Menurut Al-Arief, WEF merupakan platform penting untuk menjembatani agenda pembangunan nasional dengan akses terhadap modal internasional. Melalui forum ini, Danantara ingin membangun komunikasi yang terstruktur dengan para mitra potensial.
 
Ia menegaskan, Danantara membuka diri untuk menjadi mitra bagi investor global yang ingin berkolaborasi dalam pembangunan jangka panjang Indonesia. 
 
"Kehadiran kami di sini sekaligus juga memperkenalkan secara institusi. Kita juga memerlukan badan pengelolaan investasi strategis nasional dengan tata kelola yang baik, dan kita bersiap sedia untuk menjadi mitra dari mitra-mitra global yang ada nanti," katanya saat berbincang dengan media pada acara Coffee Morning Danantara.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan