Washington: Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Iran melancarkan serangan pada 2 September 2026 dengan menyasar pangkalan AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Serangan ini menjadi respons Iran setelah sebelumnya AS melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran. Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan sudah memperingatkan bahwa Washington bakal mendapat "hukuman berat".
| Baca juga: Iran Siapkan Syarat Buka Selat Hormuz, Ada Isu Perang hingga Sanksi AS |
Salah satu target serangan Iran adalah Camp Titin, pangkalan Korps Marinir AS di Yordania.Garda Revolusi Iran menyebut pangkalan tersebut dihantam "serangan rudal balistik yang intens" pada dini hari 2 September, seperti dilaporkan kantor berita Iran, Tasnim.
Militer Yordania kemudian menyatakan telah mencegat 10 rudal balistik yang ditembakkan dari Iran. Meski begitu, Yordania belum melaporkan adanya korban maupun dampak serangan terhadap fasilitas militer AS tersebut.
Camp Titin berada di Teluk Aqaba, tidak jauh dari perbatasan Yordania dengan Israel dan Arab Saudi. Tiga rudal lainnya dilaporkan jatuh di wilayah terpencil.
Serangan Iran juga menyasar Kuwait. Militer Kuwait menyatakan sedang merespons tindakan yang disebut sebagai aksi permusuhan Iran. Serangan berupa rudal dan drone dilaporkan terjadi di wilayah tersebut.
Sementara di Bahrain, situasinya juga sempat bikin tegang.Wartawan AFP melaporkan mendengar sirene peringatan serangan udara pada dini hari 2 September.
Artinya, eskalasi konflik kini tidak hanya terjadi di wilayah Iran dan Israel, tetapi mulai terasa di negara-negara yang menjadi lokasi keberadaan pasukan atau kepentingan AS.
Konflik Memanas Setelah AS Serang Iran
Babak terbaru konflik ini bermula pada 30 Agustus, ketika AS menyerang sejumlah target di Iran. Serangan tersebut menjadi serangan AS pertama yang diketahui dalam beberapa minggu terakhir.
Iran kemudian membalas dengan menyasar pasukan AS di Yordania dan Uni Emirat Arab. Di saat yang sama, dua kapal tanker minyak juga dilaporkan terkena proyektil yang hingga kini belum diketahui siapa pelakunya.
AS kembali melancarkan serangan pada 1 September. Televisi pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di wilayah selatan negara tersebut, termasuk di sepanjang jalur strategis Selat Hormuz dan sebuah pulau di Teluk.
Pasukan AS juga dilaporkan menyerang sebuah bandara di Provinsi Kerman, Iran bagian selatan.
Di tengah saling serang tersebut, korban sipil juga dilaporkan berjatuhan. Bulan Sabit Merah Iran menyatakan serpihan dari serangan rudal AS menghantam sebuah rumah di Kuhestak, yang saat itu digunakan untuk menggelar pesta pernikahan.
Akibatnya, empat orang tewas, termasuk seorang anak, sementara lebih dari 50 orang lainnya terluka.
Badan berita resmi Iran, IRNA, juga melaporkan empat proyektil menghantam wilayah distrik Chabahar dan Konarak. Namun, belum ada rincian mengenai kerusakan maupun korban dari insiden tersebut.
Ketika ditanya mengenai laporan korban sipil akibat serangan 1 September, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, mengatakan militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil.
Ia justru menuding Garda Revolusi Iran melakukan hal berbeda.
AS Sebut Serangan sebagai Balasan Aksi Iran
CENTCOM sebelumnya mengatakan serangan AS dilakukan sebagai respons terhadap upaya serangan terbaru IRGC terhadap kapal komersial di Selat Hormuz serta terhadap personel militer AS yang berada di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump juga menyebut operasi tersebut sebagai serangan yang "besar dan dahsyat".
Menurut Trump, serangan itu dilakukan sebagai balasan atas upaya Iran memasang ranjau laut di Selat Hormuz.
Trump juga mengatakan Iran sebelumnya telah menembakkan delapan rudal ke arah pangkalan militer AS di Yordania, tetapi seluruh rudal tersebut berhasil dicegat.
Teheran pun tidak tinggal diam. Juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebi, memperingatkan Washington bahwa AS akan "menyesali serangan barunya".
Ia juga menyatakan "hukuman berat menanti para agresor." Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa serangan balasan Iran masih mungkin berlanjut.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Persoalan lain yang membuat konflik ini makin rumit adalah Selat Hormuz.
Setelah sekitar enam bulan perang, AS dan Iran masih berada dalam situasi buntu. Iran tetap menutup Selat Hormuz, sementara AS melakukan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Washington sebelumnya menyatakan pasukannya menyerang peluncur roket Iran di Pulau Larak pada 30 Agustus. AS menyebut langkah tersebut dilakukan untuk mencegah Iran memasang ranjau di jalur pelayaran utama Selat Hormuz.
Padahal, sebelum perang pecah, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelumnya melewati jalur tersebut.
Jadi, ketika kawasan ini terganggu, dampaknya bukan cuma soal perang AS-Iran. Pasokan energi dan harga minyak global juga ikut dipertaruhkan.
Ketegangan di jalur pelayaran tersebut juga meningkat setelah dua kapal tanker minyak mentah dilaporkan terkena "proyektil tak dikenal" pada malam sebelumnya.
Perusahaan manajemen risiko maritim asal Yunani, Marisks, melaporkan insiden tersebut pada 1 September. Salah satu serangan sebelumnya juga telah dilaporkan oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO).
Beruntung, sejauh laporan yang tersedia, tidak ada korban jiwa maupun dampak lingkungan dari insiden tersebut.
Di tengah eskalasi militer, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 1 September mengatakan Iran akan mengambil langkah yang setara jika AS kembali mengambil tindakan dalam proses yang bertujuan mengakhiri perang.
Namun, Pezeshkian juga memberi sinyal bahwa jalur diplomasi masih mungkin ditempuh. Ia memperingatkan bahwa kembalinya AS pada "kebijakan tekanan dan ancaman" justru dapat menggagalkan upaya diplomasi. Dengan kondisi seperti ini, konflik AS-Iran masih jauh dari kata selesai.