Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan blok tersebut akan membahas berbagai langkah untuk mengurangi ketergantungan pada jalur transit strategis tersebut, termasuk memperkuat konektivitas perdagangan melalui koridor-koridor baru.
| Baca juga: Konsumen Zona Euro Khawatir Inflasi Tetap Tinggi Setelah Harga Minyak Melonjak |
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Koridor Ekonomi India–Timur Tengah–Eropa (India-Middle East-Europe Economic Corridor/IMEC), yang dirancang untuk menghubungkan India, Timur Tengah, dan Eropa melalui jaringan transportasi dan logistik terpadu.
"Kami akan mendiskusikan bagaimana mengurangi ketergantungan terhadap transit melalui Selat Hormuz. Beberapa rute ekspor alternatif yang lebih tangguh telah dikembangkan dan rute lainnya sedang dalam tahap pembangunan," ujar von der Leyen dikutip dari Antara.
Menurut dia, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap pasokan energi dapat menjadi sumber kerentanan strategis. Karena itu, Uni Eropa terus mencari cara untuk memperkuat ketahanan rantai pasok dan keamanan energinya.
Von der Leyen juga menyambut baik penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan baru-baru ini. Meski demikian, ia menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan implementasi kesepakatan tersebut berjalan sesuai rencana.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas perdagangan internasional. Menurutnya, kebebasan navigasi tanpa hambatan maupun pungutan tambahan merupakan faktor krusial untuk menjaga stabilitas kawasan serta mendukung pertumbuhan ekonomi global.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi harga energi dan arus perdagangan global.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda