Katalis positif yang diterima langsung baru-baru tampaknya adalah pernyataan dari Presiden Joe Biden yang mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak akan mencabut sanksi terhadap Iran, meski AS berupaya kembali ke meja perundingan. Kondisi itu berimbas terhadap sikap investor yang akhirnya mengangkat harga minyak.
Meski demikian, harga minyak telah meningkat selama berbulan-bulan berkat optimisme bahwa vaksin virus korona akan meningkatkan permintaan, sementara produsen utama minyak menghindari banjirnya pasar dengan pasokan. OPEC dan sekutu terus berupaya menjaga agar stok minyak tidak menghantam harga.
"Dengan kasus covid-19 yang sekarang menurun di wilayah tertentu, termasuk AS dan Inggris, akan ada secercah harapan bahwa yang terburuk sekarang telah berlalu, terutama ketika peluncuran vaksinasi meningkat," kata Ahli Strategi Komoditas ING Warren Patterson dan Wenyu Yao, dilansir dari CNN, Rabu, 10 Februari 2021.
"Ada juga tanda-tanda pemulihan permintaan yang berarti di negara-negara dengan pertumbuhan tinggi seperti Tiongkok, India, dan Brasil," tambah Analis Minyak UBS Giovanni Staunovo.
Sementara itu, produsen utama sedang bekerja keras untuk menjaga pasokan agar dapat terus turun. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya setuju untuk menjaga produksi stabil pada Februari dan Maret. Sementara Arab Saudi mengatakan akan secara sukarela memangkas produksinya sebesar satu juta barel per hari dari level Januari.
Sedangkan produsen di Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali bekerja dengan cepat. "Aktivitas investasi relatif tidak bergerak, dan masih perlu waktu untuk melihat dampak yang lebih besar," kata Staunovo.
Secara keseluruhan, ini adalah kabar baik untuk harga minyak. Tren tersebut telah mendukung saham perusahaan minyak seperti Exxon dan Chevron sejak November. Kondisi ini diharapkan bisa terjaga, bahkan mampu membaik di masa-masa mendatang seiring implementasi vaksinasi covid-19 di seluruh dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News