Wallstreet. Foto : AFP.
Wallstreet. Foto : AFP.

Inflasi dan Varian Omicron Buat Wall Street Tergerus

Antara • 15 Desember 2021 07:51
New York: Pasar saham Wall Street ditutup lebih rendah pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah data menunjukkan harga-harga produsen meningkat lebih tinggi dari yang diperkirakan pada November 2022. Hal ini memperkuat ekspektasi The Fed yang akan mengumumkan penghentian pembelian aset lebih cepat.
 
Melansir Antara, Rabu, 15 Desember 2021, indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 106,77 poin atau 0,30 persen menjadi 35.544,18. Indeks S&P 500 kehilangan 34,88 poin atau 0,75 persen menjadi 4.634,09. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 175,64 poin atau 1,14 persen ke posisi 15.237,64.
 
Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor teknologi dan real estat masing-masing merosot 1,64 persen dan 1,27 persen, memimpin kerugian.

Sementara itu, sektor keuangan menguat 0,62 persen, satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan karena investor bertaruh pada nada hawkish dari The Fed di akhir pertemuan dua hari mereka.
 
Varian Omicron yang menyebar cepat juga meredam sentimen investor, setelah indeks S&P 500 mencapai penutupan tertinggi sepanjang masa akhir pekan lalu.
 
Penurunan dipimpin oleh saham-saham terkait teknologi berkapitalisasi besar, dengan Salesforce.com, Microsoft Corp, Adobe dan Alphabet Inc menyeret S&P 500 dan Nasdaq lebih rendah.
 
Saham Apple Inc berakhir melemah 0,8 persen, tetapi turun dari sesi terendahnya, setelah pembuat iPhone itu mengatakan akan mengharuskan pelanggan dan karyawan untuk mengenakan masker di toko ritel AS saat kasus covid-19 melonjak.
 
Data dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga produsen (IHP) untuk permintaan akhir dalam 12 bulan hingga November melonjak 9,6 persen, mencatat kenaikan terbesar sejak November 2010. Itu mengikuti kenaikan 8,8 persen pada Oktober.
 
Sekitar dua pertiga saham Nasdaq diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari mereka, menurut data Refinitiv, menunjukkan banyak saham dalam indeks sedang tertekan, bahkan ketika indeks keseluruhan tetap hanya sekitar 6,0 persen di bawah rekor penutupan tertinggi November.
 
Saham Berkshire Hathaway dan Bank of America, keduanya naik lebih dari satu persen dan membantu menjaga S&P 500 tidak jatuh lebih jauh.
 
Banyak investor memperkirakan bank sentral AS akan memberi sinyal penghentian pembelian aset yang lebih cepat, dan dengan demikian, awal yang lebih cepat untuk kenaikan suku bunga guna menahan kenaikan harga-harga yang cepat.
 
Jajak pendapat ekonom Reuters memperkirakan bank sentral menaikkan suku bunga dari mendekati nol menjadi 0,25 persen-0,50 persen pada kuartal ketiga tahun depan, diikuti oleh yang lain di kuartal keempat.
 
Saham Pfizer menguat 0,6 persen setelah mengatakan pil antivirus covid-19-nya menunjukkan hampir 90 persen kemanjuran dalam mencegah rawat inap dan kematian pada pasien berisiko tinggi. Serta data laboratorium menunjukkan obat tersebut mempertahankan efektivitasnya terhadap varian Omicron.
 
Volume transaksi di bursa AS mencapai 10,8 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,5 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan