Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. FOTO: AFP
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. FOTO: AFP

Arab Saudi Ramal Capai Surplus Anggaran di 2022

Angga Bratadharma • 14 Desember 2021 14:04
Riyadh: Arab Saudi memperkirakan membukukan surplus anggaran pertamanya dalam hampir satu dekade pada tahun depan. Upaya itu karena berencana untuk membatasi pengeluaran publik meskipun ada lonjakan harga minyak yang membantu mengisi kembali kas negara yang dihantam oleh pandemi covid-19.
 
Mengutip Channel News Asia, Selasa, 14 Desember 2021, setelah defisit fiskal yang diperkirakan 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun ini, Riyadh memperkirakan mencapai surplus 90 miliar riyal (USD23,99 miliar) atau 2,5 persen dari PDB pada tahun depan -surplus pertama sejak masuk ke defisit setelah harga minyak jatuh pada 2014.
 
"Surplus akan digunakan untuk meningkatkan cadangan pemerintah, untuk memenuhi kebutuhan pandemi virus korona, memperkuat posisi keuangan kerajaan, dan meningkatkan kemampuannya menghadapi guncangan dan krisis global," kata Putra Mahkota Mohammed bin Salman seperti dikutip oleh kantor berita negara Saudi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengekspor minyak terbesar dunia berencana untuk membelanjakan 955 miliar riyal tahun depan, hampir enam persen dari pengeluaran dipotong dari tahun ke tahun, menurut dokumen anggaran.
 
Riyadh berencana untuk mengurangi pengeluaran militer tahun depan sekitar 10 persen dari perkiraan 2021, anggaran menunjukkan, sebuah tanda biaya konflik militer di negara tetangga Yaman telah mulai mereda.
 
Pendapatan melonjak tahun ini hampir 10 persen menjadi 930 miliar riyal dari 849 miliar yang dianggarkan, didorong oleh harga minyak mentah yang lebih tinggi dan kenaikan produksi minyak karena permintaan energi global pulih. Tahun depan, kerajaan memperkirakan pendapatan 1,045 triliun riyal.
 
"Kami sekarang benar-benar memisahkan pengeluaran pemerintah dari pendapatan. Kami memberi tahu orang-orang kami dan sektor swasta atau ekonomi pada umumnya bahwa Anda dapat merencanakan dengan prediktabilitas," kata Menteri Keuangan Mohammed al-Jadaan.
 
"Pagu anggaran akan berlanjut dengan cara yang stabil terlepas dari bagaimana harga minyak atau pendapatan akan terjadi," tambahnya.

Ekonomi Arab

Ekonomi Arab menyusut tahun lalu karena krisis covid-19 melukai sektor ekonomi non-minyak yang sedang berkembang. Adapun rekor harga minyak yang rendah membebani keuangan dan memperlebar defisit anggaran 2020 menjadi 11,2 persen dari PDB. Tetapi ekonomi bangkit kembali di 2021 karena pembatasan dilonggarkan secara global dan domestik.
 
Arab Saudi memperkirakan pertumbuhan PDB sebesar 2,9 persen di tahun ini diikuti oleh pertumbuhan 7,4 persen pada 2022, menurut anggaran Arab Saudi. Sementara itu, kerajaan tidak mengungkapkan harga minyak yang diasumsikan untuk menghitung anggarannya.
 
Untuk 2022, kemungkinan kerajaan mendasarkan anggarannya pada asumsi harga minyak yang bisa serendah USD50 hingga USD55 per barel, perkiraan Monica Malik, kepala ekonom di Abu Dhabi Commercial Bank. Itu bisa meninggalkan ruang ekstra untuk perbaikan lebih lanjut dalam posisi fiskalnya.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif