Shanghai: Bank-bank di Asia dinilai gagal dalam memenuhi komitmen global untuk mengatasi perubahan iklim maupun dekarbonisasi di masing-masing negara.
Padahal hampir 200 negara menandatangani pakta untuk memobilisasi pinjaman demi tujuan iklim. Namun dalam sebuah laporan, 32 bank di seluruh Asia Timur dan Tenggara tidak membuat rencana implementasi yang memadai dalam memenuhi komitmen tersebut.
Bank-bank dengan cepat meluncurkan produk keuangan hijau tetapi tidak melaksanakan kebijakan yang diperlukan untuk mengalihkan modal dari industri padat karbon.
"Ini menimbulkan kekhawatiran pencucian hijau: bank mencari manfaat pemasaran untuk kesepakatan keuangan berkelanjutan sambil memberikan tingkat keuangan yang lebih tinggi untuk industri kotor," kata laporan itu, Rabu, 23 Maret 2022.
Dari 32 bank di negara Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Indonesia, hanya sembilan yang memiliki komitmen nol-bersih jangka panjang. Sementara baru 13 yang memiliki kebijakan yang melarang pembiayaan bagi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru. Bank-bank Asia dengan peringkat tertinggi adalah Grup DBS di Singapura.
Lima bank diberi peringkat terendah karena nyaris memulai perjalanan mereka menuju kesiapan iklim. Termasuk Bank of Ningbo China, Ping An Bank, dan Shanghai Pudong Development Bank.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan