Prospek optimistis di balik rasa sakit yang disebabkan pandemi berasal dari fakta bahwa konsumen emas terbesar kedua di dunia mengimpor 164,4 ton logam kuning pada kuartal Oktober-Desember. Angkanya naik 19 persen dalam satu tahun, tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Namun, permintaan keseluruhan untuk kuartal keempat di 2020 sebesar 186,2 ton atau turun empat persen dalam hal volume, tetapi naik sebesar 21 persen dan 26 persen dalam dolar AS dan mata uang domestik rupee.
"Kami bisa melihat lonjakan permintaan emas yang kuat untuk beberapa tahun ke depan, terulang dari apa yang terjadi setelah penurunan tajam pada 2009," kata Somasundaram PR, Direktur Pelaksana India di Dewan Emas Dunia, dilansir dari Xinhua, Jumat, 29 Januari 2021.
Somasundaram berpendapat pada 2021 kemungkinan akan menjadi tren pertumbuhan jangka panjang dalam permintaan emas India dan manfaat dari pertumbuhan tersebut dapat secara eksplisit ditangkap jika langkah-langkah kebijakan terkoordinasi dipertahankan, menjadikan emas sebagai kelas aset utama.
Ia merujuk pada tingginya bea masuk yang dikenakan Pemerintah India yang saat ini berlaku sebesar 12,5 persen. Menurutnya pajak tinggi saat ini atas emas meningkatkan daya tarik penyelundupan sehingga pemotongan bea ke tingkat yang wajar mutlak diperlukan.
"Bersama dengan kelonggaran pajak untuk mendaur ulang emas, inovasi, dan intervensi digital," katanya.
Ekonomi terbesar ketiga di Asia melihat permintaan emasnya turun lebih dari sepertiga pada tahun kalender 2020 menjadi 446,4 ton dibandingkan dengan 690,4 ton pada 2019, di belakang penerapan penguncian wilayah yang disebabkan covid-19.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News