Visa. Foto: Unsplash.
Visa. Foto: Unsplash.

Visa PHK 2.600 Karyawan, AI Jadi Bagian dari Strategi Efisiensi

Arif Wicaksono • 30 Juli 2026 09:05
Jakarta: Gelombang efisiensi di industri teknologi dan fintech kembali berlanjut. Kali ini, giliran Visa yang berencana memangkas sekitar 2.600 pekerjaan, atau 7% dari total tenaga kerjanya, di tengah upaya perusahaan meningkatkan efisiensi dan mengalihkan investasi ke bisnis dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi.
 
Juru bicara Visa mengonfirmasi rencana tersebut pada Selasa, 28 Juli 2026. PHK terutama akan berdampak pada tim teknologi dan produk.
 
Baca juga:  Pembuat M&M's dan Snickers Bakal PHK Ratusan Karyawan             

CEO Visa Ryan McInerney mengatakan langkah tersebut diperlukan agar perusahaan dapat bekerja lebih efisien sekaligus tetap fokus pada peluang pertumbuhan.
 
“Saya sangat yakin bahwa kami melakukan hal yang benar untuk Visa, klien kami, dan mitra kami,” kata McInerney dalam memo kepada karyawan.

Visa tercatat memiliki sekitar 34.100 karyawan pada tahun fiskal 2025, naik 8% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian, pengurangan sekitar 2.600 posisi menjadi perubahan yang cukup signifikan terhadap struktur tenaga kerja perusahaan.

AI Mulai Mengubah Cara Perusahaan Bekerja

Ada satu faktor yang membuat tren PHK kali ini semakin menarik yakni kecerdasan buatan atau AI. McInerney mengatakan Visa perlu terus mengembangkan cara kerja perusahaan agar dapat menangkap peluang pertumbuhan dan tetap berada di depan perubahan industri. Menurutnya, AI akan memainkan peran penting dalam mempercepat perubahan tersebut.
 
AI telah membantu perusahaan mengurangi pekerjaan berulang dan mempercepat pengembangan produk. Namun, Visa menegaskan teknologi tersebut bukan satu-satunya alasan di balik keputusan pengurangan tenaga kerja.
 
Meski demikian, keputusan Visa menunjukkan bagaimana investasi AI mulai masuk ke tahap yang lebih nyata. Teknologi tersebut tidak lagi hanya menjadi alat eksperimen, tetapi mulai memengaruhi cara perusahaan mengatur pekerjaan, tenaga kerja, dan biaya operasional.
 
Kondisi ini sekaligus memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pekerja dan ekonom. Di satu sisi, AI dapat meningkatkan produktivitas dan profitabilitas. Di sisi lain, otomatisasi berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah jenis pekerjaan.

Bisnis Visa Justru Masih Kuat

Menariknya, PHK dilakukan ketika kinerja bisnis Visa justru masih solid. Visa mencatat laba kuartalan di atas ekspektasi pasar. Belanja konsumen yang tetap kuat serta meningkatnya aktivitas perjalanan, termasuk yang didorong oleh Piala Dunia, membantu meningkatkan volume transaksi di jaringan Visa.
 
Volume pembayaran dalam dolar konstan tumbuh 10% dan untuk pertama kalinya menembus US$4 triliun. Transaksi yang diproses Visa juga meningkat 10%.
 
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa konsumen masih aktif berbelanja meskipun perekonomian global menghadapi berbagai ketidakpastian, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.
 
Visa sendiri memiliki posisi yang relatif kuat menghadapi potensi perlambatan ekonomi karena model bisnisnya lebih bergantung pada volume transaksi, bukan risiko kredit.
 
Artinya, Visa tidak perlu menanggung risiko kredit secara langsung seperti bank. Ketika masyarakat dan bisnis melakukan lebih banyak transaksi, jaringan pembayaran Visa berpotensi mendapatkan manfaat dari peningkatan aktivitas tersebut.
 
Analis Evercore ISI menilai langkah pengurangan tenaga kerja tersebut belum menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
 
“Ini hanyalah salah satu perusahaan dengan kinerja terbaik di dunia yang mengubah jumlah karyawan dan biaya serta merealokasi uang dan sumber daya ke area dengan pertumbuhan dan keuntungan lebih tinggi,” tulis analis tersebut dalam catatannya.

PHK Saat Bisnis Tumbuh

Keputusan Visa memberikan gambaran baru mengenai tren efisiensi di era AI. Perusahaan tidak selalu melakukan PHK karena bisnis sedang jatuh. Dalam kasus Visa, perusahaan justru mencatat pertumbuhan volume pembayaran dan transaksi, tetapi tetap memilih memangkas tenaga kerja untuk mengubah struktur biaya dan mengarahkan sumber daya ke bidang yang dianggap memiliki prospek lebih besar.
 
Dengan kata lain, AI dan efisiensi kini bukan hanya soal mengurangi biaya, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan menentukan pekerjaan apa yang masih membutuhkan manusia dan pekerjaan apa yang bisa dilakukan lebih cepat dengan teknologi.
 
Visa pun memasuki fase baru dengan bisnis yang masih mencatat momentum pertumbuhan, tetapi dengan cara kerja yang kemungkinan akan semakin banyak mengandalkan teknologi.
 
“Sebagai hasil dari pilihan yang kami ambil selama beberapa tahun terakhir, kami memasuki era baru dalam perdagangan dengan bisnis yang memiliki momentum nyata,” ujar McInerney.
 
Langkah Visa datang sekitar enam bulan setelah Mastercard mengambil kebijakan serupa.
Awal tahun ini, Mastercard mengumumkan rencana memangkas sekitar 4% tenaga kerja globalnya sebagai bagian dari upaya memfokuskan kembali investasi perusahaan.
 
Sementara itu, perusahaan fintech Block pada Februari 2026 mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja yang jauh lebih besar, yakni hampir separuh dari total karyawannya atau sekitar 4.000 posisi.
 
Tren tersebut menunjukkan bahwa perusahaan teknologi dan pembayaran kini tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga semakin agresif mengevaluasi struktur biaya dan produktivitas tenaga kerja.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan