Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. AFP PHOTO/PRAKASH SINGH.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. AFP PHOTO/PRAKASH SINGH.

Waduh, Sri Mulyani Sebut Dinamika Volatilitas Harga Komoditas Dunia Luar Biasa!

Despian Nurhidayat • 27 September 2022 08:57
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan volatilitas atau perubahan harga komoditas global masih sangat tinggi sampai saat ini. Bahkan, saat ini kenaikan dan penurunan harga komoditas global berada pada dinamika yang luar biasa.
 
"Untuk gas kita melihat di 9,33 turun di 7,87 kemudian setiap kali ada statement Rusia dan Eropa akan menimbulkan dampak sentimen terhadap harga energi baik gas, coal, dan minyak. Akhir-akhir ini kita lihat harga minyak menurun cukup tajam, tadinya Juli 2022 (di level) 126 bahkan Agustus 2022 bertahan di 120 sekarang September 2022 di 89,9 untuk Brent," ungkapnya dalam Konferensi Pers APBN KITA secara virtual, dikutip Selasa, 27 September 2022.
 
Lebih lanjut, harga CPO secara global juga dikatakan mengalami penurunan cukup tajam, bahkan lebih dari 40 persen. Dari puncaknya pada Mei 2022 yang mencapai level 1.779, saat ini hanya bertengger di level 821.
 
Sementara gandum, setelah Ukraina memutuskan untuk melepaskan pasokan, telah menimbulkan penurunan pada harga gandum dan mencapai level 888. "Artinya berbagai komoditas ini masih memperlihatkan ketidakpastian atau yang terjadi di pasar keuangan maupun prospek perekonomian di berbagai negara, terutama di Eropa dan Amerika Serikat," kata Sri Mulyani.
 
Dari melonjaknya komoditas ini, menurutnya, telah menyebabkan tekanan inflasi global. Berbagai negara telah mencapai inflasi tertinggi mereka seperti Inggris sudah mencapai 9,9 persen, Eropa 9,1 persen, dan AS 8,3 persen.
 
"Dari inflasi ini, kita melihat semua negara bank sentralnya melakukan policy menaikkan suku bunga acuannya dengan pengetatan likuiditas," tuturnya.
 
Baca juga: Gegara Dinamika Global, Dana Asing Keluar Sampai Rp148,11 Triliun

 
Saat ini, Inggris sudah menaikkan suku bunga acuannya hingga 200 basis points (bps) dan mencapai 2,25 persen, AS naik 300 bps menjadi 3,25 persen, dan Brasil naik 450 bps menjadi 13,75 persen.
 
Sri Mulyani menegaskan, kenaikan suku bunga acuan ini menjadi suatu tren yang pasti memberikan dampak kinerja pertumbuhan ekonomi.
 
"Bank Dunia menyampaikan kalau seluruh bank sentral di dunia melakukan peningkatan suku bunga cukup ekstrem secara bersama-sama, maka dunia akan mengalami resesi di 2023. Inilah yang sekarang sedang terjadi, yaitu kenaikan suku bunga oleh bank sentral terutama di negara maju secara cukup cepat dan ekstrem dan itu pasti memukul pertumbuhan ekonomi di negara tersebut," ucap Sri Mulyani.
 
Oleh karena itu, dia menuturkan Indonesia harus melakukan antisipasi terhadap kemungkinan kinerja perekonomian dunia yang akan mengalami pelemahan akibat kenaikan inflasi dan suku bunga.
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif