Rupiah. Foto: MI.
Rupiah. Foto: MI.

Rupiah Tertekan ke Rp17.347 per Dolar AS, Investor Cermati Arah Negosiasi AS-Iran

Arif Wicaksono • 07 Mei 2026 09:21
Ringkasnya gini..
  • Mata uang Garuda melemah di tengah pergeseran sentimen pasar global yang mulai meninggalkan aset aman dolar Amerika Serikat (AS) dan beralih ke instrumen berisiko.
  • Berdasarkan data perdagangan pukul 09.09 WIB dikutip dari Investing, rupiah turun 59,1 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp17.347 per dolar AS.
Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, 7 Mei 2026. 
 
Mata uang Garuda melemah di tengah pergeseran sentimen pasar global yang mulai meninggalkan aset aman dolar Amerika Serikat (AS) dan beralih ke instrumen berisiko.
 
Berdasarkan data perdagangan pukul 09.09 WIB dikutip dari Investing, rupiah turun 59,1 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp17.347 per dolar AS.
 
Baca juga:  Ekonomi Tumbuh 5,61%, Kenapa Investor Masih Wait and See?    

Pelemahan rupiah terjadi saat indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) justru terkoreksi tipis. Indeks yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia itu turun 0,04 persen ke level 97,835.

Di kawasan Asia, rupiah juga terlihat melemah terhadap sejumlah mata uang regional. Ringgit Malaysia menguat 0,40 persen menjadi Rp4.435 per ringgit. Yen Jepang naik 0,15 persen ke level Rp111,04, sementara yuan China menguat 0,12 persen ke posisi Rp2.548.
 
Meski demikian, rupiah masih mampu menguat tipis terhadap euro dan baht Thailand. Euro turun 0,05 persen menjadi Rp20.405, sedangkan baht Thailand melemah 0,17 persen ke level Rp537,44.
 
Pelaku pasar saat ini menyoroti perkembangan geopolitik global, khususnya potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah.
 
Mengutip laporan Investing.com, investor mulai mengurangi kepemilikan aset safe haven seperti dolar AS dan beralih ke aset berisiko setelah muncul sinyal positif dari negosiasi Washington dan Teheran.
 
Laporan Axios menyebut Gedung Putih dan Iran disebut semakin dekat mencapai nota kesepahaman satu halaman yang akan menjadi dasar pembicaraan lanjutan terkait isu nuklir dan penghentian konflik.
 
Dalam proposal tersebut, Iran disebut akan menjalankan moratorium pengayaan nuklir, sementara AS membuka peluang pencabutan sanksi ekonomi serta pelepasan dana Iran yang selama ini dibekukan.
 
Jika kesepakatan tercapai, jalur distribusi minyak mentah di Selat Hormuz juga diperkirakan kembali dibuka penuh. Kondisi itu dinilai dapat membantu menstabilkan pasokan energi global sekaligus meredakan tekanan di pasar keuangan internasional.
 
Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan dokumen tersebut akan menjadi bagian awal dari rencana negosiasi lebih luas dengan tenggat pembicaraan selama satu bulan ke depan.
Di tengah perkembangan tersebut, investor masih memilih bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter global dan dinamika geopolitik yang terus berubah.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan