Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia. Foto: dok Bank Indonesia.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia. Foto: dok Bank Indonesia.

Gubernur BI Minta IMF Dorong Kerja Sama Internasional Demi Hadapi Ketidakpastian

Ekonomi Bank Indonesia Ekonomi Global IMF-World Bank Rusia-Ukraina Pemulihan Ekonomi Nasional Inflasi Global
Husen Miftahudin • 22 April 2022 15:13
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meminta Dana Moneter Internasional atau IMF dapat mengambil peran aktif dalam mendorong kerja sama internasional untuk mengatasi tantangan sekaligus mencegah terjadinya fragmentasi ekonomi global.
 
"Termasuk upaya terkait perubahan iklim, mengatasi pandemi, mengatasi kerentanan utang, mendorong digitalisasi, mobilisasi penerimaan pajak, serta mengamankan ketahanan energi (energy security)," ucap Perry dalam Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 22 April 2022.
 
Memperhatikan prospek perekonomian global yang menghadapi risiko dan ketidakpastian yang tinggi, Perry menyampaikan semakin pentingnya bauran kebijakan yang komprehensif dan koordinasi baik di tingkat nasional maupun internasional.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal di tingkat nasional perlu dilakukan untuk mendukung pemulihan ekonomi dengan tetap menjaga tingkat inflasi di tengah kenaikan harga energi dan komoditas. Oleh karena itu, pengembangan Integrated Policy Framework (IPF) sangat diperlukan sebagai dasar analisis dalam merumuskan formulasi bauran kebijakan.
 
"Dalam hal ini, IMF perlu membantu anggotanya untuk merumuskan exit strategy yang well-calibrated, well-planned, and well-communicated atas kebijakan moneter yang non-tradisional, serta menyusun strategi untuk mengurangi scaring effect," tegasnya.
 
Lebih lanjut, Perry menyampaikan apresiasi kepada IMF atas pembentukan fasilitas Resilience and Sustainability Trust (RST) untuk membantu negara yang membutuhkan dalam mengatasi tantangan struktural jangka panjang.
 
Sementara itu, IMF menyampaikan rekomendasi kepada negara anggota bahwa respons kebijakan perlu diarahkan untuk mengatasi tekanan inflasi yang semakin meningkat dan dampak konflik geopolitik yang semakin memanas yang berpotensi mempengaruhi proses pemulihan ekonomi.
 
Selain itu, negara anggota juga diharapkan untuk terus memperkuat kerja sama multilateral, yang antara lain mencakup kelanjutan upaya penyelesaian pandemi, upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, mendorong produktivitas melalui digitalisasi, serta komitmen untuk penyediaan kecukupan bantuan likuiditas internasional bagi negara yang membutuhkan.
 
Adapun, pertemuan tersebut menyoroti pemulihan ekonomi global yang terus berlanjut. Namun mengalami perlambatan akibat varian virus Omicron dan semakin melambat akibat dampak dari konflik yang terjadi di Ukraina.
 
Selain menyebabkan krisis kemanusiaan, konflik Rusia-Ukraina telah menyebabkan kenaikan harga energi dan pangan yang menyebabkan tekanan inflasi, di tengah disrupsi pasokan barang yang meningkat, serta kenaikan volatilitas di pasar keuangan dan aliran modal.
 
"Sejumlah faktor risiko yang mempengaruhi kinerja perekonomian global bersumber dari potensi kemungkinan memburuknya konflik di Ukraina, eskalasi sanksi atas Rusia, meningkatnya kembali kasus dan varian baru covid-19, perlambatan pertumbuhan Tiongkok, serta peningkatan tekanan sosial akibat kenaikan harga pangan dan energi," jelas pertemuan tersebut.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif