Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. Foto: Alaska Beacon.
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. Foto: Alaska Beacon.

Vance: Iran Harus Pangkas Pengayaan Nuklir Jika Ingin Perang Berakhir

Arif Wicaksono • 07 Oktober 2026 12:49
Ringkasnya gini..
  • Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan Iran harus melakukan pengurangan signifikan terhadap kapasitas pengayaan nuklirnya jika ingin mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
  • Washington menginginkan langkah nyata yang bisa menunjukkan bahwa Teheran benar-benar membatasi kemampuan pengayaan uraniumnya.
Fairbanks: Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan Iran harus melakukan pengurangan signifikan terhadap kapasitas pengayaan nuklirnya jika ingin mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Menurut dia, AS tidak cukup hanya menerima janji Iran untuk mengurangi aktivitas nuklir di masa depan. Washington menginginkan langkah nyata yang bisa menunjukkan bahwa Teheran benar-benar membatasi kemampuan pengayaan uraniumnya.
 
“Jika Anda tidak menginginkan senjata nuklir, mengapa Anda membutuhkan bahan bakar yang diperkaya hingga 60 persen?” kata Vance, dikutip dari Channel News Asia.

Vance menilai tingkat pengayaan tersebut menjadi salah satu persoalan utama dalam negosiasi antara AS dan Iran. Karena itu, Iran dinilai perlu menunjukkan komitmen melalui pengurangan kapasitas pengayaannya.

“Jika mereka ingin menunjukkan komitmen untuk tidak membuat senjata nuklir, mereka harus melakukan langkah nyata terkait kapasitas pengayaan mereka,” ujarnya.

AS dan Iran Tukar Tawaran

AS dan Iran diketahui telah bertukar sejumlah proposal dalam beberapa pekan terakhir untuk mencari jalan keluar dari konflik. Salah satu persoalan yang ikut menjadi perhatian adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu berpotensi memengaruhi pasokan dan harga energi global.

Namun, Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru dari Teheran. Trump juga memperingatkan bahwa operasi militer dapat kembali meningkat setelah pemilihan umum sela AS pada November.

Vance mengatakan Washington masih membuka peluang untuk mencapai kesepakatan. Syaratnya, Iran harus memberikan konsesi nyata dalam isu nuklir.

“Kami tidak akan menukar kata-kata dengan tindakan nyata,” kata Vance.

AS Bingung Siapa Pengambil Keputusan di Iran

Negosiasi juga menghadapi persoalan lain. Vance mengaku Washington belum sepenuhnya memahami siapa yang memiliki kewenangan terbesar dalam mengambil keputusan di Iran.

AS saat ini berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Namun, Vance mempertanyakan seberapa besar pengaruh kedua pejabat tersebut dalam struktur kekuasaan Iran.

Keraguan itu muncul setelah serangan gabungan AS-Israel pada awal perang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

“Salah satu hal yang kami amati adalah tidak sepenuhnya jelas bagaimana negara mereka mengambil keputusan,” ujar Vance.

Trump sebelumnya juga mengatakan persoalan terbesar dalam negosiasi adalah ketidakjelasan mengenai siapa yang sebenarnya memimpin Iran.

Pemerintah Iran membantah anggapan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pejabat AS sebenarnya mengetahui siapa mitra mereka dalam perundingan dan bagaimana sistem pengambilan keputusan Iran bekerja.

Menurut Baghaei, persoalan justru muncul karena adanya pernyataan yang saling bertentangan dari pejabat AS.

Perang Tekan Harga Energi

Di sisi lain, konflik AS-Iran mulai memberikan tekanan terhadap pasar energi global. Vance mengatakan biaya perang kini mencapai sekitar USD3 miliar per bulan.

Kondisi tersebut juga menjadi persoalan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan umum sela pada November.

Kenaikan harga energi membuat biaya hidup masyarakat ikut menjadi sorotan, terutama di negara bagian yang persaingannya ketat dan dapat menentukan penguasaan Kongres.

Vance pun berupaya meyakinkan pemilih bahwa konflik tersebut tidak seharusnya menghalangi dukungan mereka terhadap Partai Republik.

Pesan itu disampaikan Vance saat berkampanye di Alaska untuk Senator Partai Republik Dan Sullivan. Sullivan tengah menghadapi persaingan ketat dengan kandidat Partai Demokrat Mary Peltola.

Alaska menjadi salah satu wilayah yang ikut mendapat perhatian karena biaya hidup yang relatif tinggi. Letaknya yang terpencil membuat harga berbagai kebutuhan sehari-hari lebih mahal, sementara sektor energi menjadi salah satu penopang utama ekonominya.

Vance dan Pilpres 2028

Kunjungan Vance ke Alaska juga menarik perhatian karena posisinya sebagai salah satu figur yang dipandang berpeluang menjadi kandidat Partai Republik pada pemilihan presiden AS 2028.

Namun, Vance mengatakan dirinya belum menentukan apakah akan maju dalam pemilihan tersebut.

“Saya benar-benar belum banyak memikirkannya,” ujar Vance. Ia bahkan menggambarkan dirinya sebagai orang yang cenderung menunda keputusan.

Untuk saat ini, fokus Vance masih berada pada upaya membantu pemerintahan Trump menghadapi konflik dengan Iran sekaligus menjaga dukungan politik Partai Republik menjelang pemilu sela AS.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan