Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada Minggu, 27 September 2026. Ia juga mengatakan arus minyak yang melewati Selat Hormuz telah meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Trump turut menyebut negosiator AS kemungkinan kembali melakukan pembicaraan dengan Iran pada pekan ini. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara melalui telepon dengan Axios.
Baca juga: Trump Perintahkan Pengibaran Bendera Setengah Tiang untuk Dolly Parton |
“Harga minyak akan turun segera setelah permintaan mereda, segera setelah perang berakhir (yang akan terjadi dalam waktu dekat). Harga minyak akan anjlok dan turun,” ujar Trump, dikutip dari Investing, Senin, 28 September 2026.
Pernyataan Trump muncul setelah pemerintah AS menolak proposal terbaru Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Dalam proposal tersebut, Iran mengaitkan pembukaan selat dengan sejumlah persyaratan, termasuk pencabutan blokade dan pemulihan gencatan senjata.
Trump mengatakan situasi lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz kini telah membaik. Ia mengklaim jumlah minyak yang berhasil melewati jalur tersebut pada akhir pekan mencapai rekor sejak perang dimulai.
“Ingatan satu hal: harga minyak saat ini lebih murah dibandingkan masa pemerintahan Biden. Terlepas dari semua itu, kami mengeluarkan minyak dalam jumlah yang sangat besar,” kata Trump.
Trump juga mengatakan kepada Fox News bahwa kemungkinan serangan militer lanjutan terhadap Iran masih terbuka. Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian mengenai arah konflik dan proses negosiasi Washington-Teheran.
Iran Pertahankan Syarat Pembukaan Hormuz
Di sisi lain, Iran menyatakan belum akan mengubah persyaratan yang diajukan untuk membuka kembali Selat Hormuz.Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran mengetahui pernyataan Trump mengenai penolakan proposal Iran. Namun, menurut dia, pemerintah Iran belum menerima tanggapan resmi AS melalui Qatar dan Pakistan yang berperan sebagai mediator.
Araghchi menegaskan jalur diplomasi masih menjadi pilihan untuk menyelesaikan kebuntuan terkait Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi perdagangan energi global.
“Presiden Pezeshkian dan saya tidak datang ke New York untuk mengobarkan perang. Kami datang untuk mewujudkan perdamaian,” ujar Araghchi dalam unggahan di X pada Minggu.
Araghchi berada di New York untuk memimpin delegasi Iran dalam sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementara itu, laporan kantor berita Iran Fars menyebut pasukan Iran menargetkan 19 kapal yang mereka sebut sebagai “pelanggar” di Selat Hormuz pada Jumat dan Sabtu.
Fars melaporkan 12 kapal menjadi sasaran pada Jumat malam dan tujuh lainnya pada Sabtu malam. Media tersebut juga melaporkan adanya penggunaan rudal jelajah dan drone serang terhadap kapal komersial di sebelah selatan selat pada Minggu.
Selain itu, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyita kendaraan bawah air militer AS yang beroperasi di Selat Hormuz.
Namun, juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengatakan AS masih memiliki kendali atas aset drone operasionalnya.
Negosiasi AS-Iran Masih Berlanjut
Sebelumnya, negosiator AS dan Iran membahas kemungkinan kesepakatan yang memungkinkan Iran membuka kembali Selat Hormuz, sementara Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.Proposal Iran yang disampaikan dalam perundingan tidak langsung di New York juga mencakup pembukaan kembali selat dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dalam waktu satu pekan apabila sejumlah syarat dipenuhi.
Trump kemudian menyatakan telah menolak proposal tersebut. Meski demikian, ia mengatakan pembicaraan dengan Iran masih mungkin berlanjut pada pekan ini. Qatar dan sejumlah negara regional diketahui berperan sebagai mediator dalam komunikasi kedua pihak.
Di tengah kebuntuan tersebut, harga minyak justru bergerak naik pada perdagangan awal pekan. Harga Brent tercatat naik sekitar 1,1 persen menjadi USD105,48 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0,8 persen menjadi USD93,12 per barel dalam perdagangan yang dilaporkan Investing.com.
Kenaikan tersebut terjadi setelah Iran menyatakan tidak akan melonggarkan persyaratannya untuk membuka kembali Selat Hormuz, sementara Trump telah menolak proposal Teheran.
Ketegangan juga terjadi di kawasan lain. Pasukan koalisi yang didukung Arab Saudi di Yaman menyatakan sistem pertahanan udara mereka mencegat dua drone Houthi yang mengarah ke Riyadh serta sebuah rudal balistik menuju Khamis Mushait di Arab Saudi bagian selatan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa meskipun jalur negosiasi Washington dan Teheran masih terbuka, persoalan Selat Hormuz dan konflik yang lebih luas di kawasan belum menemukan penyelesaian. Kondisi tersebut juga tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar minyak global.