CEO Creative Center Indonesia (CCI) Uti Rahardjo (kiri). Foto: dok pribadi.
CEO Creative Center Indonesia (CCI) Uti Rahardjo (kiri). Foto: dok pribadi.

Ini Kunci Bertahan dalam Menekuni Bisnis Kreatif

Ade Hapsari Lestarini • 09 Januari 2022 09:55
Jakarta: Berusaha untuk tangguh (resilience) menjadi salah satu kunci keberhasilan bisnis kreatif di tengah pandemi covid-19Resilience (resiliensi) adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit.
 
"Sikap ini diserap oleh armada kami, sehingga nilai yang terbangun sejak awal di Creative Center adalah ketangguhan," ungkap Pendiri sekaligus CEO Creative Center Indonesia (CCI) Uti Rahardjo, saat menelurkan buku "Kreatif Berbisnis Kreatif-21 Tahun Merawat Bisnis Kreatif", dikutip Minggu, 9 Januari 2022.
 
Menurut dia, resilience menjadi satu kekuatan yang membuat Creative Center bisa bertahan hingga lebih dari 20 tahun. Dia mengistilahkannya sebagai G. R. I. T (Guts, Resilience, Initiative, dan Tenacity), yang berarti memiliki nyali, tahan banting, penuh inisiatif, dan persisten.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama 21 tahun memimpin Creative Center, perusahaan biro iklan yang dinakhodainya lahir tanpa persiapan yang matang ini, justru mampu meng-handle sejumlah klien di berbagai bidang, mulai dari institusi perbankan, perusahaan (korporasi) swasta dan BUMN, termasuk di dalamnya perusahaan bergerak di bidang otomotif dan transportasi, kebutuhan pribadi (personal care),  Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO), produsen makanan jadi dan pangan kemasan serta produk olahan, resto, pengelola wisata belanja eceran, hingga rumah sakit, dan lembaga pendidikan.
 
Uti juga sempat belajar sambil praktek dBBDO, JWT Adforce, Saatchi & Saatchi Advertising, dan McCann Erickson ini merupakan peraih Entrepreneurial Winning Women 2011 dari Ernst & Young dan penerima Anugerah Perempuan Indonesia (API) 2012 dari Woman Review Magazine ini selama 21 tahun berkarier di CCI selalu melakukan pekerjaannya dari rumah. Namun dirinya telah mampu beradaptasi dalam situasi rumah yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan bekerja di kantor.
 
"Pasti saya menghadapi tantangan yang sangat bertubi-tubi, termasuk di masa pandemi di mana banyak sektor usaha menghadapi banyak kesulitan. Begitu juga dengan kami, harus menghadapi tantangan yang dikhawatirkan dapat merontokkan kinerja yang sudah dibangun selama bertahun-tahun," jelasnya.
 
Oleh karena itu, diperlukan kreativitas yang tinggi, untuk bisa bertahan dalam membangun tim yang solid, mengatur cash flow perusahaan yang ketat, serta mempertahankan konsumen atau klien agar bisa terus beradaptasi, sehingga tetap dapat menghasilkan pendapatan yang signifikan.

Mengendalikan bisnis tanpa digital

Kendati menjadi bagian dari generasi analog versus generasi digital, namun Uti dan timnya yang juga didukung oleh mereka yang mulai memahami ranah digital dengan sejumlah aplikasinya, dapat membuktikan, jika CCI ternyata bisa bertahan di tengah situasi yang sangat kompetitif, dengan kemampuan anak muda dengan digital mindset-nya.
 
"Menjalankan bisnis itu bukan merancang sesuatu secara sempurna, melainkan mengalir saja sebagai suatu proses. Business is not science, not art, but practice," tambah praktisi bisnis kreatif tersebut. 
 
Uti pun merasa menjadi generasi yang beruntung, menyaksikan dan memegang kendali bisnis melampaui masa di 2000, yakni peran internet, komputer, serta teknologi digital belum secangggih seperti saat ini.
 
"Dengan modal pernah bekerja di berbagai perusahaan advertising selama lebih dari 10 tahun itu, saya memulai pendirian perusahaan Creative Center setelah menang penawaran tender salah satu perusahaan perbankan asing di Indonesia," tambahnya.
 
Selain itu, dirinya memiliki asset knowledge yang cukup berharga hingga seluruh kliennya menaruh kepercayaan besar, sehingga kerja sama dengan mereka bisa berlangsung sampai bertahun-tahun. Dirinya juga menjadi terbiasa untuk bekerja secara sangat cepat, mematuhi tenggat waktu yang ekstra ketat, untuk menghasilkan pekerjaan output yang sempurna.
 
"Tim kami itu digojlok oleh para klien melalui pembentukan gugus tugas (task force) yang sangat taktis, guna menjawab kebutuhan pasar. Dengan orientasi melayani pada permintaan pasar yang sangat ketat, maka tim kami terlatih dengan tetap bekerja secara profesional. Kuncinya adalah 'tidak pernah mengatakan tidak bisa', karena pada dasarnya kita tidak pernah tahu, mana yang benar-benar kita tidak bisa lakukan sebelum kita mencoba," pungkasnya.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif