Gerai D'BestO. Foto : Perusahaan.
Gerai D'BestO. Foto : Perusahaan.

5 Rahasia Memiliki 300 Outlet Kurang dari 10 Tahun

Arif Wicaksono • 21 Desember 2021 18:40
Jakarta: Banyak pemain food and beverage (F&B) yang mengandalkan menu ayam goreng cepat saji di Indonesia, namun ada satu nama lokal menonjol yakni d’BestO. Mengusung konsep berbeda dibanding pesaing dari luar negeri yang umumnya menyasar segmen restoran, d’BestO fokus untuk menyediakan menu fried chicken dalam konsep mini resto yang sederhana dan merakyat.
 
Dengan fokus pada segmen ini, D’BestO telah melebarkan sayap dengan pesat. Hingga kini telah memiliki hampir 300 outlet yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Sumatra Barat.
 
Mengutip keterangan resminya, Selasa, 21 Desember 2021, Corporate Secretary d’BestO Wahyu Pambudi membagikan lima rahasia d’BestO hingga bisa berkembang pesat secara konsisten melewati berbagai tantangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengatakan ada beberapa cara yang membuat usaha ini berhasil bertahan, bahkan melebarkan sayap di tengah pandemi covid-19.

1. Siasati krisis dengan kreatif.


Di balik kesuksesan d’BestO, siapa sangka jika brand ini lahir dari sebuah masa sulit yang diterpa oleh kedua pendirinya, Evalinda Amir dan Setyajid. Sebenarnya, keduanya telah membuka brand fried chicken dengan sistem gerobak sejak 1994 dengan nama Kentuku Fried Chicken (KUFC).
 
Namun, pada 1998 dan 2005, usaha yang dirintis menghadapi tantangan berat karena krisis moneter dan juga flu burung. Menolak untuk menyerah, Evalinda dan Setyajid menyiasati flu burung dengan kreatif.
 
Mereka menempel profilnya di setiap outlet d’BestO agar konsumen percaya, ayam yang mereka jual bebas dari flu burung. Kebetulan, keduanya sama-sama memiliki latar belakang sebagai dokter hewan, sehingga bisa memberikan edukasi kepada konsumen akan keamanan produk yang dijual.

2. Jeli menggarap segmen yang belum digarap kompetitor.


Di Indonesia, ada banyak brand mancanegara yang menjadikan menu fried chicken sebagai hidangan utama. Ada pula pemain-pemain lokal independen dengan konsep gerobak yang juga bermain di sektor ini.
 
Meskipun begitu, ada sektor yang belum terjamah ketika d’BestO dimulai, yakni outlet fried chicken yang terjangkau dan bisa dinikmati berbagai kalangan, namun memiliki rasa yang lezat, konsisten, dan bersertifikasi MUI.
 
"Restoran fried chicken umumnya memiliki harga yang relatif tinggi. Sementara banyak brand dalam skala yang lebih kecil tidak memiliki standarisasi yang kuat sehingga membuat rasa yang berbeda-beda. d’BestO menyediakan produk fried chicken dengan rasa yang lezat, konsisten, terjangkau, dan dapat ditemukan dengan mudah," kata Wahyu.

3. Berinovasi dengan memaksimalkan sumber daya yang ada.


Pengusaha manapun pasti setuju, jika inovasi merupakan hal yang penting bagi keberlangsungan suatu bisnis. Namun, jika tidak dilakukan dengan hati-hati, fokus pada inovasi juga berpeluang membuat pengeluaran membengkak. Untuk menyiasatinya, d’BestO memilih untuk fokus berinovasi dengan memaksimalkan bahan baku yang telah ada.
 
"Selain efisiensi, inovasi menggunakan bahan baku yang sudah ada juga memungkinkan kami untuk fokus pada keunggulan kami, yakni aneka produk fried chicken, burger, dan turunannya," lanjut Wahyu.
 
Agar konsumen tidak bosan, d’BestO selalu mengeluarkan menu baru setiap tiga-empat bulan sekali.

4. Program marketing berlandaskan data.


Sejak pandemi, semakin banyak brand yang beralih ke layanan digital, baik layanan pembayaran digital seperti ShopeePay maupun layanan pesan antar makanan seperti ShopeeFood.
 
Bagi d’BestO, ada dua keuntungan yang didapatkan dari adaptasi layanan digital. Pertama, menstimulus konsumen untuk bertransaksi lebih banyak dengan ragam promo yang kerap diberikan. Kedua, memberikan keuntungan dari segi data yang lebih komprehensif.
 
"Di sisi lain, setiap bulannya kami selalu melihat insight dari transaksi penjualan kami di ShopeePay dan ShopeeFood. Insight tersebut beserta current trend dan insight-insight lain yang tersebar secara luas di dunia maya juga memungkinkan kami untuk membuat program berlandaskan data sehingga lebih terukur, jelas, dan tepat sasaran," kata Wahyu.

5. Mendapatkan lebih, dengan memberi lebih.


Berdiri selama satu dekade, d’BestO selalu memegang teguh prinsipnya sebagai sebuah bisnis untuk dapat membawa manfaat bagi konsumen, pegawai, hingga masyarakat sekitar. Ekspansi d’BestO hingga ke beberapa kota, nyatanya membawa dampak signifikan dari segi sosial dan ekonomi.
 
Contohnya, sejak melebarkan sayapnya ke Sumatra Barat pada 2014 silam, d’BestO berangsur-angsur mengurangi tingkat pengangguran Kota Padang. Roda perekonomian pun semakin berputar dengan seiring berkembangnya cabang d’BestO.
 
"Untuk karyawan, kami juga secara rutin memberikan apresiasi berupa penghargaan tahunan dan masih banyak lagi. Dengan memberi lebih, d’BestO yakin akan membawa dampak yang lebih besar dan mendapatkan lebih," tutup Wahyu.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif