Matcha tea produksi Arafah Tea, di Bandung, Jawa Barat, konsisten diekspor ke Korea Selatan (Foto:Dok.Kementan)
Matcha tea produksi Arafah Tea, di Bandung, Jawa Barat, konsisten diekspor ke Korea Selatan (Foto:Dok.Kementan)

Matcha Tea Produksi Bandung Tembus Pasar Ekspor Korea Selatan

M Studio • 26 April 2020 13:34
Jakarta: Salah satu komoditas perkebunan Indonesia, teh, berhasil menembus pasar Korea Selatan. Matcha tea produksi Arafah Tea, di Bandung, Jawa Barat, konsisten diekspor ke Korea Selatan. 
 
Bisnis teh selain bermanfaat untuk kesehatan, juga banyak sekali inovasi produk teh yang diminati pasar luar. Contohnya, terdapat permintaan pasar Korea Selatan untuk matcha tea sebagai bahan isian kasur dan bantal untuk kesehatan.
 
Ditengah kekhawatiran pandemi covid-19 tak mematahkan semangat pemilik Arafah Tea, Ifah Syarifah, untuk terus berproduksi.
 
Saat ini, Arafah Tea bersama kelompok tani One yang diketuai H Alvian sedang menyiapkan permintaan tersebut untuk Mei 2020 dengan volume mencapai 21 ton dan sedang berjalan produksi hingga akhir April 2020.

Data BPS yang diolah Ditjen Perkebunan menyatakan pada Februari 2020, ekspor teh Indonesia mencapai 7.530 ton dengan nilai ekspor USD16,25  juta. Dari volume ekspor tersebut, pasar Korea Selatan menyerap teh Indonesia sekitar 9 ton, senilai USD21,65 ribu.
 
Matcha Tea Produksi Bandung Tembus Pasar Ekspor Korea Selatan
Matcha tea produksi Arafah Tea diekspor ke Korea Selatan (Foto:Dok.Kementan) 
 
Direktur Jenderal Perkebunan Kasdi Subagyono menyikapi dengan baik atas berkembangnya inovasi-inovasi baru baik di hulu maupun hilir. "Tentunya dengan memerhatikan standar kualitas yang ada dan dibutuhkan negara buyer. Dan yang tidak kalah penting bagaimana inovasi tersebut tetap memerhatikan kelestarian lingkungan (ramah lingkungan), berada pada koridor keberlanjutan baik keberlanjutan usaha secara teknis maupun keberlanjutan lingkungan," katanya.
 
Seperti diketahui, bahan tanaman teh juga berfungsi menahan tanah, menyerap air dan menyuplai oksigen, serta penting untuk diversifikasi ekosistem di dataran tinggi.
 
Dalam rangka meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan, perlu dilakukan inovasi pengembangan produk-produk perkebunan. Misalnya, kelapa ada produk briket arang untuk bahan bakar, cocopeat dari sabut kelapa untuk media tanam. Tanaman sawit dengan pemanfaatan Tandan Buah Segar (TBS) kosong sebagai sumber biomassa. 
 
Selain itu, pada kopi juga pemanfaatan sekam dan kulit kopi belum banyak dikembangkan. Saat ini, teh sedang dilakukan inovasi berupa pemanfaatan matcha tea untuk bahan isian kasur dengan pemanas yang banyak digunakan di terapi spa, dan untuk bantal terapi kesehatan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan