Ilustrasi. Foto: dok MI/Amiruddin.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Amiruddin.

Mengulik Cara Komunitas Petani Muda Bangkitkan Pertanian

Ade Hapsari Lestarini • 28 November 2022 20:37
Denpasar: Dunia pertanian tidak selalu identik dengan kotor, melelahkan, dan tidak efisien. Komunitas Petani Muda Keren punya resep untuk mengubah citra dunia pertanian yang demikian muram itu.
 
Pendiri Komunitas Petani Muda Keren, Anak Agung Gde Agung Wedhatama mengajak para petani di Bali, baik tua maupun muda untuk mengembangkan pertanian organik dengan sistem smart farming, irigasi sprinkle, bahkan penggunaan artificial intelligence.
 
"Jadi, tidak ada lagi petani itu capek, panas, dan kotor. Dengan smart farming, efisiensi jadi tinggi dan cost bisa ditekan sampai 70 persen," kata pria asal Singaraja, Bali, pendiri Komunitas Petani Muda Keren ini, dikutip Senin, 28 November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia tidak memungkiri ada citra kuat dunia pertanian itu tidak baik. Segala aktivitas yang berbau pertanian, kata dia, dinilai melelahkan, tidak nyaman, dan kotor. "Mengapa pertanian kita ditinggalkan? Karena cost-nya tinggi, dan efisiensi rendah," ungkap Gung Wedha ini.
 
Menurut Gung Wedha, pertanian selama ini dinilai ekonomi biaya tinggi. Baik dari saat pratanam, masa tanam, dan panen. Selain itu, sistem pemasaran masih tradisional, sehingga tak bisa menjangkau tempat jauh.
 
Baca juga: Petani Milenial Diharap Bisa Ciptakan Peluang Baru Jaga Ketahanan Pangan

Lewat komunitas yang dia bangun, Gung Wedha mengubah citra buruk tersebut. Untuk pemasaran misalnya, Gung Wedha mengajak para petani di Komunitas Petani Muda Keren Bali untuk memasarkan produk hasil pertanian melalui aplikasi khusus, yaitu Bali Organik Subak (BOS).
 
Dengan aplikasi ini, para petani yang tergabung dalam komunitas yang dia bangun bisa menjual produknya hingga ke mancanegara. "Kami ada ekspor buah-buahan seperti manggis dan mangga ke Tiongkok, Rusia, dan Timur Tengah," kata dia.
 
Di Pulau Dewata, komunitas yang berdiri sejak 2018 ini menghimpun sekitar 1.000 petani. Mereka tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Bali. Mereka selain menanam palawija juga produk hortikultura.
 
Ada yang menanam padi, jagung, aneka umbi, sorgum, palawija, manggis, mangga, jeruk. "Menanam macam-macam. Kalau ditotal kurang lebih kami mengelola sekitar 500 hektare lahan pertanian," jelas Gung Wedha.
 
Dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong pemuda dan generasi milenial untuk terjun ke sektor pertanian. Kementerian Pertanian punya program satu juta petani milenial.
 
"Petani milenial harus kreatif dan aktif. Jangan mau kalah sama petani kolonial. Yang namanya petani milenial itu punya pergaulan dan bergaulan dengan orang-orang baik. Yang saya senang dari petani milenial itu tidak mau kalah," kata Syahrul Yasin Limpo dalam salah satu kesempatan.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
 
(AHL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif