Pelaku UMKM. Foto: MI.
Pelaku UMKM. Foto: MI.

Peran BUMN Bantu Pelaku UMKM Korban Gempa NTT untuk Bangkit

Arif Wicaksono • 29 Agustus 2026 17:48
Ringkasnya gini..
  • Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 bukan cuma merusak rumah dan fasilitas umum. Aktivitas ekonomi warga ikut kena dampaknya.
  • Buat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kondisi ini bisa berarti lebih dari sekadar toko tutup sementara. Ketika warung berhenti beroperasi, produksi terhenti atau pelanggan tidak datang, pemasukan keluarga otomatis ikut seret.
Jakarta: Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 bukan cuma merusak rumah dan fasilitas umum. Aktivitas ekonomi warga ikut kena dampaknya.
 
Buat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kondisi ini bisa berarti lebih dari sekadar toko tutup sementara. Ketika warung berhenti beroperasi, produksi terhenti atau pelanggan tidak datang, pemasukan keluarga otomatis ikut seret.
 
Baca juga: Jelang Harbolnas 2026, Mahasiswa dan UMKM Jadi Sasaran, Ini Program yang Disiapkan

Karena itu, pemulihan setelah bencana tidak cukup hanya dengan memastikan warga mendapatkan makanan, air, obat-obatan dan tempat tinggal sementara. Setelah situasi darurat mereda, tantangan berikutnya adalah membuat masyarakat bisa kembali bekerja dan menghasilkan uang.
 
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bantuan untuk wilayah terdampak terus bergerak. Pada periode 15-22 Agustus 2026, sebanyak 954,438 ton bantuan logistik telah didistribusikan ke wilayah terdampak NTT. Pos Pendukung Logistik Nasional juga menerima sekitar 1.541 ton bantuan dari 72 donatur, mulai dari kementerian/lembaga, TNI, BUMN, perusahaan hingga organisasi kemanusiaan.

Namun, bantuan logistik hanyalah langkah pertama. Setelah kebutuhan dasar mulai tertangani, roda ekonomi harus kembali berputar.
 
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bahkan mendorong setiap kabupaten dan kota memiliki gudang logistik beserta persediaan cadangan. Dengan begitu, pemerintah daerah bisa bergerak lebih cepat ketika bencana terjadi tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah pusat.
 
“Kami sarankan ke depan masing-masing kabupaten/kota punya logistik, buffer stok siap,” kata Suharyanto.

BUMN Bisa Jadi Penghubung Pemulihan Ekonomi

Di sinilah peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi menarik. BUMN punya jaringan yang cukup luas, mulai dari perbankan, telekomunikasi, energi, transportasi, logistik sampai platform perdagangan digital.
 
Artinya, kontribusi BUMN sebenarnya tidak harus berhenti pada pengiriman bantuan. Infrastruktur dan jaringan bisnis yang mereka miliki juga bisa digunakan untuk membantu UMKM kembali beroperasi.
 
Salah satu contoh datang dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Perusahaan telah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah Pulau Flores.
 
Bantuan seperti ini penting pada fase awal. Tetapi setelah kebutuhan darurat terpenuhi, pelaku UMKM membutuhkan sesuatu yang berbeda: modal, pelanggan dan akses untuk kembali berjualan.
 
Masalahnya, bencana bisa membuat kerugian UMKM menjadi berlapis. Bukan hanya omzet yang hilang, tetapi stok dagangan bisa rusak, peralatan produksi ikut terdampak, tempat usaha tidak bisa digunakan dan modal kerja menipis.
 
Karena itu, program pemulihan UMKM idealnya tidak hanya berbentuk bantuan tunai. Pendampingan bisnis, restrukturisasi kredit, digitalisasi, akses pembiayaan dan pembukaan pasar juga perlu berjalan bersamaan.
 
Contoh ekosistem tersebut bisa dilihat melalui PaDi UMKM yang dikembangkan PT Telkom Indonesia. Pada 2026, platform ini menargetkan nilai transaksi Rp8,8 triliun dari pengadaan barang dan jasa BUMN melalui UMKM.
 
Konsepnya sederhana: UMKM tidak hanya diberi bantuan agar bertahan, tetapi juga diberi kesempatan mendapatkan transaksi.
 
Model seperti ini relevan untuk diterapkan di NTT. Ketika UMKM mendapat pesanan, mereka kembali memproduksi barang. Ketika produksi berjalan, pekerja kembali mendapatkan penghasilan. Supplier ikut bergerak dan uang kembali berputar di daerah.
 
Dengan kata lain, satu pesanan bisa menghidupkan rantai ekonomi yang lebih panjang.

Pemerintah Daerah Punya Peran Besar

BUMN tentu tidak bisa bekerja sendirian. Pemerintah daerah menjadi pihak yang paling mengetahui kondisi masyarakat di lapangan.Salah satunya keputusan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena untuk tetap mempertahankan Pameran Pembangunan Provinsi NTT meski wilayah tersebut baru saja menghadapi gempa.
 
Pameran Pembangunan NTT BaSTEL 2026 merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Nama BaSTEL sendiri merupakan singkatan dari “Bangun SDM, Tumbuhkan Ekonomi, Lajukan NTT.”
 
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga vertikal, TNI dan Polri, perbankan, perhotelan hingga perguruan tinggi. Lebih dari 300 UMKM juga mendapatkan ruang untuk mempromosikan dan menjual produk mereka.
 
Bagi sebagian orang, mempertahankan pameran setelah bencana mungkin terlihat sederhana. Namun bagi pelaku usaha, keberadaan ruang untuk bertemu calon pembeli bisa menjadi kesempatan untuk kembali mendapatkan pemasukan.
 
Pemulihan ekonomi memang tidak selalu harus menunggu seluruh proses rehabilitasi selesai. Selama kondisi memungkinkan dan aspek keselamatan terpenuhi, aktivitas perdagangan justru dapat menjadi bagian dari proses pemulihan itu sendiri.
 
Akses pasar bagi UMKM NTT juga sebelumnya telah didorong melalui berbagai program. Bank Indonesia NTT, misalnya, melibatkan 12 UMKM unggulan daerah dalam Karya Kreatif Indonesia pada Agustus 2026 untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.

Kredit UMKM Terdampak Ikut Jadi Perhatian

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah utang. Ketika usaha berhenti sementara, cicilan tetap berjalan. Situasi ini bisa menjadi tekanan tambahan bagi pelaku UMKM yang kehilangan omzet akibat bencana.
 
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman memastikan pelaku usaha mikro yang terdampak gempa NTT akan mendapatkan restrukturisasi kredit. Namun pemerintah masih melakukan pendataan untuk mengetahui siapa saja pelaku usaha yang terdampak sekaligus memiliki kewajiban kredit.
 
Pemerintah juga telah memberikan bantuan kepada UMKM melalui pemerintah provinsi dan kabupaten di NTT. Salah satu bentuknya adalah program belanja gratis di warung-warung sekitar lokasi bencana yang pembiayaannya ditanggung pemerintah daerah.
 
Skema seperti ini menarik karena bantuan langsung diarahkan untuk membuat transaksi kembali terjadi. Warga memperoleh kebutuhan, sementara warung lokal tetap mendapatkan omzet.

Digitalisasi Jangan Ikut Mati

Ada satu hal lain yang tidak boleh dilupakan untuk mendorong UMKM yakni konektivitas digital.
 
Bagi UMKM masa kini, internet bukan lagi sekadar alat untuk scrolling media sosial. WhatsApp, marketplace, QRIS dan media sosial sudah menjadi bagian dari cara pelaku usaha mencari pelanggan dan menerima pembayaran.
 
Pemerintah Kota Kupang, misalnya, mendorong UMKM masuk ke ekosistem digital melalui Pekan QRIS Nasional 2026. Tujuannya agar transaksi menjadi lebih cepat, aman dan inklusif.
 
Di tengah pemulihan pascabencana, akses digital bisa menjadi salah satu cara agar UMKM tetap terhubung dengan konsumen meski kondisi fisik tempat usaha belum sepenuhnya pulih.
 
Program pendampingan seperti Rumah BUMN juga bisa diperkuat untuk kebutuhan tersebut. Selama ini, Rumah BUMN menjadi salah satu wadah bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan pelatihan, meningkatkan kemampuan digital dan membuka akses pasar.
 
Di wilayah terdampak gempa, pendekatannya bisa dibuat lebih spesifik. Misalnya, memberikan pendampingan kepada UMKM yang kehilangan tempat usaha, peralatan produksi, modal kerja maupun pelanggan.

Bangkit Bukan Sekadar Bangun Gedung

Pemerintah pusat sendiri menekankan bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara menyeluruh. Dalam kunjungannya ke Nagekeo, Presiden Prabowo Subianto melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah, BNPB, TNI, Polri dan kementerian terkait.
 
Mensesneg Prasetyo Hadi menyampaikan proses pemulihan dilakukan secara bertahap, termasuk melalui rehabilitasi layanan dan fasilitas, rekonstruksi infrastruktur serta pemulihan kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.
 
Bagi UMKM, arti dari pemulihan berkelanjutan sebenarnya cukup sederhana dengan bisa buka usaha lagi, punya pelanggan lagi dan punya pemasukan lagi.
 
Karena itu, kolaborasi BUMN, pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, komunitas dan pelaku usaha menjadi penting. Bantuan modal harus bertemu dengan akses pasar. Internet harus bertemu dengan kemampuan digital. Infrastruktur harus bertemu dengan aktivitas ekonomi.
 
Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan NTT tidak hanya dihitung dari berapa ton bantuan yang dikirim atau berapa banyak bangunan yang berhasil diperbaiki.
 
Ada ukuran lain yang tidak kalah penting yakni seberapa cepat warga bisa kembali mendapatkan penghasilan. Ketika warung kembali buka, nelayan kembali melaut, pengrajin kembali membuat produk dan UMKM kembali menerima pesanan, di situlah tanda-tanda ekonomi mulai hidup lagi.
 
Dan di titik tersebut, BUMN punya peluang memainkan peran yang lebih besar. Bukan cuma datang ketika bencana terjadi, tetapi ikut menemani masyarakat NTT sampai benar-benar bisa berdiri dan membangun kembali kehidupan ekonominya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan