Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Pembangunan Kilang Tuban Tersandung Lahan

Ekonomi pertamina kilang tuban
Suci Sedya Utami • 15 Mei 2019 06:05
Jakarta: Pembangunan proyek Kilang Tuban milik PT Pertamina (Persero) dipastikan molor. Pasalnya proyek kilang anyar yang sedang digarap tersebut tersandung masalah lahan. Hal itu lantaran Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya memenangkan gugatan warga terkait lahan yang menjadi lokasi kilang.
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan awalnya lahan itu sudah ditetapkan oleh Gubernur Jawa Timur sebagai lokasi pembangunan kilang. Namun di tengah jalan masyarakat menggugat ke pengadilan terkait izin penetapan lokasi (penlok) tersebut.
 
"Penetapan lokasi yang sudah dikeluarkan gubernur kemudian di-PTUN-kan. Izin dinyatakan kalah dan dinyatakan batal," kata Nicke dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 14 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nicke mengatakan Kilang Tuban memerlukan lahan seluas 800 hektare. Dia menjelaskan 400 hektare lahan milik Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) telah disetujui Presiden untuk digunakan. Artinya masih ada sisa 400 hektare lagi yang diperlukan.
 
Dia bilang apabila permasalahan lahan ini tidak kunjung usai, pihaknya akan melakukan reklamasi sehingga kekurangan lahan bisa diatasi. "Kalau masalahnya masih berlarut-larut kita coba lakukan reklamasi. Kita sudah lakukan site preparation tapi karena penlok dinyatakan batal jadi kita setop dahulu," tutur dia.
 
Selain reklamasi, Pertamina juga mengajukan revisi Pre Front Investment Decision (FID). Pertamina menarggetkan bisa mendapatkan persetujuan revisi FID pada minggu ketiga Juni 2019. Permasalahan Kilang Tuban ini juga sampai ke telinga Presiden Joko Widodo.
 
Menanggapi penolakan warga tersebut, Presiden mengimbau agar segala aspirasi warga disampaikan ke kepala daerahnya baik bupati maupun gubernur. "Yang penting dibicarakan kalau ada yang belum setuju, investasi itu untuk membuka lapangan pekerjaan,” kata Presiden Jokowi dikutip dari situs Sekretariat Kabinet.
 
Sebagaimana diketahui, Pertamina masih mengandalkan sejumlah kilang tua untuk memenuhi kebutuhan BBM. Kilang terakhir yang dibangun Pertamina pada 1994 yaitu kilang di Balongan, Indramayu.
 
Kilang Tuban pun termasuk satu dari dua kilang baru yang akan dibangun oleh Pertamina. Hingga akhir tahun lalu, Pertamina mecatat proyek kilang Tuban telah menyelesaikan Bankable Feasibility Study (BFS), tender seleksi process licensor, Basic Engineering Design (BED) dan Front End Engineering Design (FEED).
 
Selanjutnya Pertamina akan melakukan penandatangan kontrak process licensor, general engineering design consultant, dan PMC, pengoperasian perusahaan patungan secara penuh, pelaksanaan pembebasan lahan tahap II, dan pelatihan tenaga kerja lokal. Pertamina menargetkan proyek kilang Tuban yang investasinya mencapai USD15,7 miliar dapat selesai pada 2025.
 
Selain Kilang Tuban, pembangunan beberapa kilang lainnya juga masih terkendala lahan. Salah satunya Kilang Bontang yang masih kekurangan lahan 500 hektare. Nicke mengatakan kebutuhan lahan untuk kilang ini sekitar 900 hektare. Namun negara hanya mampu menyediakan 400 hektare.
 
"Hampir semua di kilang kita permasalahannya lahan. Kita sedang proses tukar menukar," pungkas Nicke.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif