Illustrasi. Dok : ANT/Yudhi.
Illustrasi. Dok : ANT/Yudhi.

Pertengahan Agustus, Anak Usaha PLN Siap Bangun PLTS Cirata

Ekonomi plts
Annisa ayu artanti • 04 Juli 2019 21:27
Jakarta: Anak usaha PT PLN (Persero), PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) masih mencari rekan (partner) dalam membangun proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung atau floating solar photovoltanic power plan di Cirata, Jawa Barat.
 
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan keputusan akhir mengenai beauty contest ini bakal diumumkan pada 19 Agustus 2019.
 
"Proses ini akan berakhir sampai ada pemenang, 19 Agustus terpilih," kata Rida di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Kamis, 4 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun batas akhir penyampaian proposal menjadi rekan yakn pada 12 Juli 2019. Rida mengatakan dari proses penyaringan yang telah mendaftar, sudah ada delapan perusahaan yang mendaftar di antaranya yakni tiga perusahaan asal Jepang, dua perusahaan asal Arab Saudi, satu perusahaan asal Tiongkok, satu perusahaan asal Korea, dan satu perusahaan asal Uni Emirat Arab yakni Masdar.
 
Rida mengakui anak usaha Mubadala tersebut memang mendapatkan keistimewaan (privillege) dalam penawaran proyek PLTS terapung Cirata. Kendati PJB juga tetap melakukan tender pada calon rekanan lainya menyusul telah tuntasnya standar prosedur operasional (SOP) pemilihan langsung dalam mencari mitra yang dibuat PLN.
 
Keistimewaan yang diberikan pada Masdar yakni bisa melihat penawaran yang diberikan investor lain yang ikut tender. Apabila penawaran investor lain bisa disanggupi Masdar, Masdar yang akan bermitra dengan PJB.
 
"Karena Masdar dipayungi dengan G to G (goverment to goverment), kemudian dia punya previlege jadi berlaku mekanisme right to match. Posisinya sekarang masih dalam proses submit, menyampaikan proposal. Batas akhir untuk perusahaan itu 12 Juli," tutur Rida.
 
PJB dan Masdar sebenarnya telah menandatangani perjanjian pembangunan proyek PLTS Terapung di Waduk Cirata Jawa Barat. Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antara PT PJB dan Masdar tanggal 16 Juli 2017 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
 
Namun, PLN menyatakan butuh skema yang tepat untuk proses penunjukan langsung ini agar memberikan kepastian investasi dan menghindari permasalahan hukum pascakasus PLTU Riau I. Kemudian, PLN membuat SOP pemilihan langsung yang diatur dalam perseroan.
 
Sementara itu, ada penyesuaian yang dilakukan pada proyek ini. Awalnya proyek ini ditaksir membutuhkan dana sekitar USD300 juta atau sekitar Rp4,05 triliun. Namun sekarang nilainya berubah menjadi sekitar USD150 juta hingga USD200 juta.
 
Selain itu awalnya proyek PLTS terapung pertama di Indonesia ini berkapasitas sebesar 200 mega watt (MW) yang rencananya akan dibangun dalam dua tahap.
 
Tahap pertama akan dibangun 50 MW, rencananya pembangkit tahap pertama akan selesai dan beroperasi pada kuartal II 2019. Lalu untuk tahap kedua hingga tahap ke empat akan dibangun dengan total 150 MW dan rencananya akan beroperasi pada 2020.
 
"Kapasitasnya jadi 145 MW, sekarang langsung dibangun satu tahap dan ditargetkan COD (beroperasi) di 2021," jelas Rida.
 
Proyek PLTS Cirata juga dibahas dalam pertemuan antara Menteri Energi dan Industri Uni Emirat Arab Suhail Mohamed Faraj Al Mazrouei dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan di Kementerian ESDM hari ini.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif