Ilustrasi. MI/MOHAMAD IRFAN
Ilustrasi. MI/MOHAMAD IRFAN

PLN Siap Pasok Listrik ke Ibu Kota Baru

Ekonomi listrik pembangkit listrik pln tarif listrik Ibu Kota Baru
Desi Angriani • 31 Agustus 2019 07:48
Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) siap memasok kebutuhan listrik di ibu kota baru. Pasokan listrik ke wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) itu akan dipasok dari wilayah luar. Adapun PLN masih memiliki cadangan listrik sekitar 300 Megawatt (MW) di Kalimantan Selatan (Kalsel).
 
Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah mengatakan cadangan itu bisa didistribusikan ke Kaltim. "Nanti tinggal dari keputusan pemerintah pusat perkiraan kebutuhan listriknya berapa jadi PLN tentunya menyesuaikan. Tapi saat ini sangat siap," katanya, di D'Consulate Resto and Lounge, Wahid Hasyim, Jakarta, Jumat, 30 Agustus 2019.
 
Menurutnya pemerintah tak perlu membangun pembangkit listrik baru demi menerangi ibu kota baru. Sebab, sistem kelistrikan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur sudah terhubung menjadi satu sistem. Secara kapasitas, Kalsel masih mempunyai cadangan sebesar 300 MW.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pembangkit listrik di Kalsel juga memasok ke Kaltim, begitu juga pembangkit di Kaltim memasok juga di Kalsel," tutur dia.
 
Ia menambahkan energi terbarukan belum bisa sepenuhnya mendukung konsep green dan smarcity di ibu kota baru. Hal ini dikarenakan kebutuhan listrik rumah tangga tak bisa bergantung pada bio massa, solar cell maupun tenaga air saja.
 
"Tidak bisa sepenuhnya kalau EBT tapi konsep green city masih bisa diterapkan dengan memasok energi listri dari wilayah luar," terangnya.
 
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Faby Tumiwa mengatakan, pusat pemerintahan baru membutuhkan tambahan daya listrik sebesar 1.500 MW di luar total kebutuhan pasokan wailayah Kalimantan Timur yang mencapai 2.000 MW.
 
Kebutuhan listrik tersebut dapat diperoleh dari pembangunan pembangkit baru dengan konsep energi terbarukan. Pemerintah semestinya tak menggunakan bahan bakar fosil bila ingin menciptakan green dan smarcity.
 
"Jangan sampai Kutai yang tinggi produksi batu bara lalu kemudian menggunakan itu. Kita justru harus menstransformasi Kalimantan Timur berbasis pada energi terbarukan, tidak pada batu bara yang kotor dan nilai ekonominya main turun," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif