Penandatanganan perjanjian pokok yang merupakan lanjutan nota kesepahaman kerja sama hilirisasi batu bara menjadi DME. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Penandatanganan perjanjian pokok yang merupakan lanjutan nota kesepahaman kerja sama hilirisasi batu bara menjadi DME. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

BUMN-Air Product Sepakat Bangun Pabrik Gasifikasi Batu Bara

Ekonomi pertamina ptba
Annisa ayu artanti • 16 Januari 2019 19:31
Jakarta: PT Pertamina (Persero), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Air Product and Chemicals Inc sepakat membentuk perusahaan patungan (joint venture) hilirisasi mulut tambang di Peranap, Riau.
 
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian pokok yang merupakan lanjutan nota kesepahaman kerja sama hilirisasi batu bara menjadi dimethylether (DME) yang dilakukan oleh ketiga perusahaan tersebut pada November 2018 di Allentown, Amerika Serikat (AS).
 
Direktur Utama Bukit Asam Ariviyan Arifin mengatakan setelah penandatanganan hari ini ketiga perusahaan akan melakukan studi kelayakan (feasibility study) mengenai bisnis dan komersial terlebih dahulu yang akan dimulai dilakukan Februari. Setelah itu baru akan dibentuk perusahaan patungan tersebut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Setelah tanda tangan principles agreement joint venture company kita segera melakukan feasibility study. Setelah itu lalu bikin joint venture Pertamina, Bukit Asam, dan Air Product," jelas Ariviyan di Grand Hyatt, Jakarta, Rabu, 16 Januari 2019.
 
Ariviyan berharap dalam 24 bulan pabrik ini bisa beroperasi. Sekadar informasi melalui teknologi gasifikasi, batu bara akan diubah menjadi syngas yang kemudian akan diproses kembali menjadi produk akhir berupa DME.
 
Nantinya, Bukit Asam akan menyuplai batu bara dari area tambang Peranap ke perusahaan patungan untuk diolah menjadi produk akhir yang akan dibeli oleh Pertamina.
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menegaskan kerja sama Pertamina dengan Bukit Asam dan Air Products adalah langkah strategis bagi semua pihak, untuk meningkatkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional, melalui pemanfaatan DME.
 
"Sekitar 73 persen elpiji masih diimpor, pada 2017 Indonesia mengonsumsi tidak kurang dari 7,11 juta ton elpiji. Pabrik gasifikasi batu bara ini adalah proyek yang sangat strategis secara nasional, karena kami rencanakan DME akan mengurangi sebagian besar kebutuhan elpiji impor," jelas Nicke.
 
Chairman, President & CEO Air Products Seifi Ghasemi berkomitmen bahwa sebagai pemilik teknologi gasifikasi batu bara akan sungguh-sungguh berinvestasi di Indonesia.
 
Rencananya pabrik gasifikasi batu bara ini akan memproduksi 1,4 Juta ton DME per tahun dan membutuhkan batu bara sebesar 9,2 juta ton per tahun.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi