Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar. (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya)
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar. (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya)

Status Anak Gunung Krakatau Diturunkan dari Siaga jadi Waspada

Ekonomi kementerian esdm Gunung Anak Krakatau
Suci Sedya Utami • 25 Maret 2019 13:24
Jakarta: Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan status gunung api Anak Krakatau dari level III (siaga) menjadi lebel II (waspada).
 
Hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga 25 Maret 2019, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau cenderung menurun walaupun berfluktuasi kecil. Potensi erupsi masih ada, namun dengan intensitas yang kecil dibandingkan periode erupsi Desember 2018 dan sebaran material hasil erupsi yang membahayakan hanya tersebar pada radius 2 kilometer (km) dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
 
"Berdasarkan hasil pengamatan, analisis data visual maupun instrumental hingga 25 Maret 2019, maka tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau diturunkan dari LEVEL III (Siaga) menjadi LEVEL II (Waspada) terhitung tanggal 25 Maret 2019 pukul 12.00 WIB," ujar Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin, 25 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rudy mengatakan secara visual Gunung Anak Krakatau, pasca periode erupsi intensif sejak Juni 2019-9 Januari 2019, masih sesekali mengeluarkan letusan asap putih uap air dengan tinggi kolom asap maksimal mencapai 1.000 meter di atas puncak. Pengamatan energi tremor cenderung menurun walaupun berfluktuatif serta tidak memperlihatkan indikasi deformasi yang signifikan pada tubuh gunung api.
 
"Masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 2 km dari Kawah Aktif. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," tambah Rudy.
 
Gunung api Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api aktif yang berada di Selat Sunda, muncul di antara Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pukau Rakata (Komplek Vulkanik Gunung Krakatau). Gunungapi Anak Krakatau sejak pemunculannya 11 Juni 1927 hingga 2019, telah mengalami erupsi lebih dari 120 kali dengan waktu istirahat berkisar antara satu hingga enam tahun. Erupsi selama lima tahun terakhir adalah letusan abu dan aliran lava. Pada Juni-Desember 2018 erupsi menerus terjadi beberapa kali dengan intensitas energi tremor erupsi terkuatnya terjadi pada September.
 
Pada 22 Desember 2018 aktivitas meningkat kembali, dengan terekamnya tremor vulkanik menerus yang berasosiasi dengan letusan menerus, serta letusan surtseyan pada 28 Desember 2018. Sehingga pada 27 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari level II (waspada) menjadi level III (siaga).
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif