Ilustrasi kilang minyak Pertamina. (FOTO: dok Pertamina)
Ilustrasi kilang minyak Pertamina. (FOTO: dok Pertamina)

Pertamina Bakal Garap Kilang Cilacap Tanpa Aramco

Ekonomi pertamina kilang cilacap saudi aramco
Suci Sedya Utami • 14 Mei 2019 15:05
Jakarta: PT Pertamina (Persero) bakal mengusulkan pada pemerintah untuk mengerjakan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) atau revitalisasi Kilang Cilacap secara mandiri apabila Saudi Aramco tidak jadi masuk sebagai rekan kerja.
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan saat ini pihaknya memang masih menunggu keputusan Saudi Aramco terkait kerja sama dalam proyek tersebut. Batas waktu bagi Aramco untuk memberikan jawaban yakni hingga akhir Juni mendatang.
 
"Jika tidak terjadi kesepakatan, kita usul ke pemerintah kita akan lakukan secara mandiri seperti halnya Kilang Balikpapan baru nanti kita beriringan (mencari) partnernya," kata Nicke dalam rapat kerja dengan Komisi VII, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 14 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nicke mengatakan satu hal yang masih menjadi pertimbangan dalam kesepakatan yakni terkait dengan valuasi dari kilang existing saat ini yang dimasukkan dalam nilai proyek revitalisasi secara keseluruhan. Saudi Aramco hingga kini masih belum sepakat dengan skema tersebut.
 
Namun demikian, lanjut Nicke, dengan sudah beroperasinya unit Residuel Fluid Catalytic Cracker (RFCC) dan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) dalam memproduksi bensin dengan kualitas Euro 4 dimulai sudah sesuai dengan target.
 
"RFCC dan PLBC sudah mulai beroperasi dan berproduksi di April. Sehingga Cilacap sudah menghasilkan Euro 4," jelas Nicke.
 
Dalam kesempatan yang sama Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Heru Setiawan mengatakan pihaknya mendekati batas waktu penyelesaian kontrak kemungkinan bakal bertemu dengan Saudi Aramco untuk memastikan kembali dan memberikan keyakinan terkait proyek tersebut.
 
Heru mengatakan pihaknya masih melihat Kilang Cilacap memiliki potensi besar untuk dikembangkan, sehingga nilainya juga tinggi. Sementara Saudi Aramco, kata Heru, melihat kilang tersebut memiliki hambatan-hambatan sehingga mempengaruhi penilaian terhadap besaran nilai.
 
"Namun untuk Kilang Cilacap kita akan jalan dengan atau tanpa partner, jangan sampai ganggu proses kita bikin Kilang," jelas Heru.
 
Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Widya Yudha yang kini menduduki posisi sebagai Wakil Komisi I menjelaskan kilang minyak di Cilacap mampu memproses 300 ribu barel minyak per hari. Diharapkan, kilang tersebut mampu menambah pasokan energi dalam negeri.
 
Satya menyebutkan keberadaan kilang Cilacap itu nantinya juga dapat mengurangi defisit transaksi berjalan. Seperti diketahui, penyebab utama defisit akun berjalan adalah impor bahan bakar minyak (BBM).
 
"Jadi kita hanya mengimpor minyak mentah saja. Proses jadinya di Indonesia," ucap Satya.
 
DPR meminta Saudi Arabia serius dalam menindaklanjuti rencana pembangunan kilang minyak di Cilacap. Nilai investasi mencapai USD60 miliar.
 
Desakan itu disampaikan oleh Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) usai menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia YM Esam A Abid Althagafi di ruang pertemuan pimpinan di Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin, 13 Mei 2019.
 
"Raja Arab Saudi sudah memerintahkan putra mahkota dan putra mahkota memerintahkan Kementerian Energi untuk segera merealisasikan proyek kilang minyak di Cilacap yang bekerja sama dengan Saudi Aramco," kata Bamsoet.
 

(AHL)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA18:59

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif