Indonesia Perlu Ikuti Tiongkok Beralih ke Pembangkit Nuklir

Suci Sedya Utami 23 Oktober 2018 16:56 WIB
pembangkit listriknuklirTeknologi Nuklir
Indonesia Perlu Ikuti Tiongkok Beralih ke Pembangkit Nuklir
Ilustrasi pembangkit. (FOTO: Medcom.id/Kautsar Widya)
Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendorong pengembangan penggunaan energi nuklir terutama dalam pembangkit listrik.

Deputi Bidang TIEM BPPT Eniya Listiani Dewi mengatakan Indonesia perlu mencoba mengikuti Tiongkok yang mengalihkan penggunaan batu bara ke nuklir. Apalagi penggunaan batu bara diperkirakan masih menjadi sumber utama dalam menghasilkan energi di Indonesia.

Padahal seperti diketahui penggunaan batu bara berdampak buruk bagi keberlangsungan iklim dan lingkungan. Sehingga menurut dia harus ada upaya untuk menurunkan dampak buruk tersebut dengan pengalihan bahan baku energi.

Eniya mengatakan Tiongkok mampu mengelola 100 megawatt energi listrik yang dihasilkan dari nuklir. Besaran yang dikelola pun berskala universal.

"Saya rasa Indonesia juga harus berani seperti Tiongkok. Saya geregetan juga ini di RUEN (Rancangan Umum Energi Nasional) goal nuklirnya kapan sih?," kata Eniya dalam sebuah diskusi bertajuk energy outlook di Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Oktober 2018.

Dia bilang pengembangan energi nuklir perlu ditentukan secepatnya sebab semakin lama maka hasil yang dirasakan juga semakin tertunda. Ia mengatakan jika dikembangkan saat ini, maka Indonesia baru akan memetik hasil 30 tahun mendatang.

Itupun berdasarkan kalkulasi BPPT, kapasitas pembangkit listrik yang diperoleh dari tenaga nuklir baru delapan gigawatt di 2050. Tentu, lanjut Eniya, masih jauh dari kontribusi kapasitas yang disumbang dari batu bara yakni 131,3 gigawatt di tahun yang sama.

"Kalau kita mulai menggunakan nuklir sekarang itu kita baru daparkan delapan gigawatt," jelas dia.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id