Dirut Pertamina Dwi Soetjipto. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin)
Dirut Pertamina Dwi Soetjipto. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin)

Mengapa Rosneft Jadi 'Prefered Bidder' Kilang Tuban?

Ekonomi kilang tuban
Annisa ayu artanti • 28 April 2016 08:36
medcom.id, Jakarta: PT Pertamina (Persero) telah bertemu langsung dengan Chairman dan CEO Rosneft, sebuah perusahaan BUMN bidang energi Rusia. Pertamina menyatakan Rosneft menjadi kandidat terkuat pemenang tender lelang partner untuk pembangunan kilang Tuban.
 
Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, sementara ini kandidat kesukaan Pertamina (prefered bidder) adalah Rosneft. Rosneft menunjukkan keseriusannya untuk menjalin kerja sama dengan Pertamina dalam memperkuat ketahanan energi baik di sektor hulu dan hilir.
 
"Rosneft menjadi salah satu prefered bidder," kata Dwi, di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu, 27 April.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lalu, mengapa Rosneft menjadi prefered bidder? Dwi menjelaskan, karena Rosneft merupakan salah satu produsen minyak mentah (crude oil) terbesar di dunia. Pembangunan kilang di Tuban akan bisa berjalan cepat bila bekerja sama dengannya.
 
"Supaya pembangunan kilang baru di Tuban bisa berjalan cepat. Kita semua tahu Rosneft produsen crude oil terbesar di dunia," ungkap dia.
 
Selain itu, Rosneft juga menawarkan kerja sama terintegrasi antara dua negara. Salah satu yang ditawarkan adalah kerja sama pada sektor upstream di Rusia. Rosneft juga menawarkan akan menyuplai kebutuhan Pertamina seperti minyak mentah dan harga kompetitif.
 
"Rosneft juga menawarkan secara integrated. Jadi Pertamina juga akan terlibat upstream di Rusia. Kemudian Rosneft juga akan suplai kebutuhan Pertamina baik crude maupun produk dengan harga yang kompetitif. Kemudian bagaimana mengembangkan, petrochemical di hilirnya," lanjut Dwi, saat ditemui kembali di Kementerian BUMN.
 
Selain itu, kedua belah pihak yakni antara Pertamina dan Rosneft juga telah sepakat membuka data room untuk melihat potensi kerja sama lainnya. Untuk di sektor upstream, Dwi menyebutkan telah menyiapkan anggaran USD3 miliar sampai USD4 miliar per tahunnya.
 
"Kita di upstream USD3 miliar sampai USD4 miliar per tahunnya paling tidak kita siapkan. Misal lima tahun ya kita siapkan USD12 miliar sampai USD15 miliar," ujar Dwi.
 
Sementara itu, CEO Rosneft, Igor Ivanovich menuturkan alasannya mengapa perseroan sangat serius menjajaki kerja sama dengan Pertamina. Igor mengungkapkan, Indonesia merupakan pasar yang besar. Dengan kerja sama awal ini akan membuka berbagai kerja sama lainnya.
 
"Indonesia is a big market. 250 juta orang. Negara Muslim terbesar dan kita juga punya Muslim di negara kita. Dan kita punya beberapa produk internasional. Kita juga kerja sama sama Vietnam. Kita pasok minyak ke Singapura juga. Terus produk BBM yang dibuat dari minyak kita dipasok ke Indonesia. Makanya kalau bisa di-arrange secara langsung di Indonesia bisa lebih efisien," jelas Igor.
 
Sekadar informasi, saham Rosneft saat ini dimiliki pemerintah Rusia. Saat ini Rosneft sedang melakukan negosiasi awal dengan Pertamina untuk pembangunan kilang Tuban. Meski belum belum bisa menyebutkan berapa besar investasi proposal terkait proyek itu sudah diajukan ke Pertamina.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif