Ilustrasi (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)
Ilustrasi (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)

Pengembangan Biodiesel Diminta Cukup Sampai B20

Ekonomi minyak sawit kelapa sawit biofuel
Suci Sedya Utami • 09 Januari 2019 07:46
Jakarta: Penerapan kebijakan biodiesel 20 persen atau B20 hingga saat ini ternyata masih belum berjalan mulus. Pasalnya, pemerintah masih banyak mendapatkan masukkan agar penggunaan B20 bisa lebih maksimal.
 
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana membenarkan pemerintah banyak mendapat masukkan terkait penerapan B20, termasuk untuk pengembangan dan penambahan kadar persentase di atas 20 persen.
 
Rida menjelaskan salah satu masukkan tersebut ialah meminta agar penggunaan biodiesel untuk transportasi darat cukup hingga kadar 20 persen dan tidak perlu dinaikkan. Sebab, pencampuran biodiesel yang selama ini dilakukan di terminal BBM bukan di kilang membuat minyak biodiesel tidak stabil.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"B20 didiamkan seminggu saja pisah (cerai). Jadi banyak yang menyarankan ke kami berhenti di B20," kata Rida, di kantornya, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 8 Januari 2018.
 
Selain itu, tambahnya, masukkan juga datang untuk pengembangan greenfuel terkait penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) sawit diolah langsung di kilang Pertamina. Proses pencampuran langsung di kilang dipercaya memiliki kualitas yang lebih stabil.
 
"Greenfuel lebih stabil," tutur dia.
 
Kendati demikian, lanjut Rida, pemerintah tetap akan melakukan pengembangan terhadap B30. Dia bilang sesuai timeline, pada Maret 2019 rencananya sudah akan dilakukan road test. "Kalau tidak ada perubahan kebijakan, program lama tetap dijalankan sambil menunggu greenfuel dibahas melalui kajian," pungkas dia.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif