Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang. Foto: Dokumen Pertamina
Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang. Foto: Dokumen Pertamina

Revitalisasi Kilang Bakal Tingkatkan Kapasitas Produksi

Ekonomi Kilang Balikpapan
Suci Sedya Utami • 16 Mei 2019 21:00
Bali: Proyek revitalisasi dan pembangunan kilang Pertamina atau dikenal dengan Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GRR) yang sedang digarap PT Pertamina (Persero) akan meningkatkan kapasitas kilang hingga dua kali lipat.
 
Saat ini kapasitas kilang Pertamina sebesar satu juta barrel per hari. Dengan adanya upgrading maka kapasitas kilang akan naim menjadi dua juta barrel per hari.
 
Dalam agenda Refining Petrochemicals World (RPW) 2019 di hotel Westin Bali, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang menegaskan perseroan menjadikan RDMP dan GRR sebagai dua fokus inisiatif strategis dalam rangka menuju perusahaan migas kelas dunia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tallulembang bilang sebagai agen utama pengembangan energi nasional di Indonesia, Pertamina bertujuan menjadi perusahaan migas kelas dunia pada tahun 2025. Untuk mencapai standar kelas dunia ini, Pertamina akan meningkatkan kapasitas kilang melalui pembangunan empat RDMP dan dua GRR.
 
"Sekaligus mengintegrasikannya ke dalam pabrik petrokimia untuk mengembangkan bisnis baru dengan dukungan sumber daya manusia handal, teknologi terkini berkelas dunia serta mengedepankan aspek HSSE (Health Safety Security Environment),” ujar Tallulembang dalam keterangan resmi, Kamis, 16 Mei 2019.
 
Megaproyek RDMP dan GRR, lanjut Tallulembang, sekaligus akan meningkatkan kemampuan pengolahan minyak mentah (crude) dari sweet crude menjadi sour crude dengan kandungan sulfur sekitar dua persen. Selain itu, peningkatan Yield of Valuable menjadi sekitar 95 persen dari sebelumnya 75 persen.
 
“Kilang Pertamina ini nantinya akan menghasilkan produk BBM yang ramah lingkungan standar Euro lima serta akan menghasilkan produk Petrochemical berkisar 6.600 Kilotonnes Per Annum (KTPA) dari sebelumnya sebesar 600 KTPA, sehingga bisa mengurangi impor produk petrokimia secara signifikan,” imbuh Tallulembang.
 
Dengan hadirnya kedua proyek besar ini, lanjut Tallulembang, diharapkan bisa meningkatkan produksi minyak sehingga 100 persen. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan energi nasional serta mendukung pertumbuhan industri petrokimia dan memperkuat bisnis hilir Pertamina.
 
Pertamina, imbuh Tallulembang, terus berupaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) karena proyek yang dijalankan memiliki kebutuhan material dan jasa dengan standar yang tinggi untuk megaproyek yang saat ini sedang dijalankan Pertamina. Karena itu, Pertamina juga membutuhkan produsen manufaktur dalam negeri agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam berbagai aspek, seperti spesifikasi produk, ketepatan waktu hingga harga.
 
"RPW 2019 bagi kami merupakan ajang mencari partner yang tepat dalam menjalankan projek-projek yang kami miliki. Antusiasmenya sangat luar biasa, sehingga kami pun bisa memperoleh opsi dalam berbagai aspek pemilihan partner," ujar dia.
 
RPW 2019 mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, salah satunya GM Asset Management PT Kreasindo Resources Indonesia, Dempsey Robby Kambey. Menurut Dempsey kegiatan ini sangat positif, sehingga ia bisa melihat sejauh mana perkembangan bisnis kilang dan pertrokimia saat ini, khususnya mengenai dua megaproyek yang saat ini dimiliki Pertamina.
 
“Kami pun mempunyai kesempatan untuk menyampaikan kapabilitas yang kami miliki sebagai perusahaan dalam negeri,” ujar Dempsey.
 
Hal senada diungkapkan Timbul P. Gurning, dari JMJ Associates yang merupakan konsultan Keselamatan Kerja Global. Menurut Timbul, Pertamina memiliki proyek luar biasa yang juga harus didukung oleh aspek HSSE yang mumpuni. Kesempatan ini menjadi ajang bagi perusahaan untuk menyampaikan kapabilitasnya dalam mengelola aspek HSSE.
 
Sementara itu Sebastian Huchette dari Axens Solution perusahaan lisensor yang bekerja sama dengan Pertamina dalam aspek teknologi untuk proyek Pertamina seperti pada salah satu unit treating gasoline di unit RFCC Cilacap dan RDMP Balikpapan menyatakan kegiatan RPW 2019 bisa saling membuka berbagai kesempatan kerjasama lainnya dengan Pertamina.
 
Paul Allan dari Honeywell UOP juga menyampaikan apresasi atas ajang RPW 2019. Menurutnya, kegiatan ini merupakan sarana untuk membangun jaringan satu sama lain dan menjajaki aneka kemungkinan kerjasama.
 
“Pertamina dan Honeywell UOP punya sejarah kerjasama yang panjang, dan tentunya kami sangat membuka kesempatan jika ada berbagai kemungkinan kerja sama pengembangan lainnya,” ujar Paul.
 
Sebagaimana diketahui, RPW 2019 merupakan ajang bagi para pemimpin & pelaku industri minyak & gas (migas) khususnya di bidang Refinery & Petrochemicals untuk membahas tantangan, peluang hingga tren pasar bertujuan sebagai sarana mencari solusi dalam berbagai permasalahan yang umun ditemui dalam sektor ini.
 
Kegiatan ini terbagi dalam Sesi Pleno Eksekutif dan Diskusi Panel menghadirkan 40 Pembicara dari dalam dan luar negeri serta diikuti 350 peserta yang berkecimpung dalam bisnis kilang dan petrochemicals,engineering procurement and construction (EPC) hingga penyedia teknologi.
 
Mengusung Tema"Transformasi Digital dan Inovasi Proses untuk Masa Depan Hilir yang Berkelanjutan", kegiatan ini menjadi ajang bagi Direktorat Megaproyek dan Pengolahan Petrokomia Pertamina untuk menyampaikan berbagai proyek besar Pertamina sesuai dengan target yang ingin dicapai.
 

(SCI)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif