Ilustrasi. Foto  : AFP.
Ilustrasi. Foto : AFP.

Indonesia Sulit Raih Investasi di Energi Terbarukan

Ekonomi energi terbarukan
Desi Angriani • 14 Oktober 2019 21:22
Jakarta: Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai Indonesia akan sulit menarik investasi di bidang energi terbarukan atau renewable energy. Pasalnya, pengembangan energi terbarukan dalam negeri masih terkendala kualitas kebijakan dan regulasi, proses bisnis serta tarif yang tidak ekonomis.
 
"Sebagian besar negara sekarang memiliki potensi energi angin, air, dan matahri. Semua punya jadi ini persaingan berat untuk menarik investasi," katanya dalam Economic Outlook Menuju Kemandirian Energi Nasional, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019.
 
Fabby menjelaskan setiap investor melihat peluang investasi melalui potensi risiko dan return proyek. Karena itu, pemerintah perlu merombak regulasi dan ketidakpastian pelaksanaan peraturan perundangan, kualitas kebijakan, serta ketidakjelasan prospek bisnis jangka panjang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, ketentuan harga jual listrik dari pembangkit energi terbarukan belum mencerminkan keekonomian proyek, ekspektasi pengembalian dana investor, (investor's return expectation), dan risiko.
 
"Kemudian terbatasnya akses pendanaan khususnya untuk pembangkit skala kecil, suku bunga bank lokal relatif tinggi serta struktur industri kelistrikan yang dikuasai oleh PLN vertically-integrated," ungkap dia.
 
Menurutnya, rata-rata investasi energi terbarukan di dunia kini mencapai USD300 miliar. Sementara perkembangan investasi bidang Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Indonesia hanya mencapai USD110 juta.
 
"Kalau ditanya ke investor yang serius masuk, rata-rata mereka melihat kepastian jangka panjang, membangun portofolio yang bagus," ujar Fabby.
 
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya mencatat realisasi investasi untuk sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) masih jauh di bawah target.
 
Hingga akhir Desember 2018, capaian investasi di sektor EBTKE hanya USD1,6 miliar atau jauh dari target pemerintah sebesar USD2,01 miliar.
 
Untuk target investasi EBTKE 2019 sebesar USD1,8 miliar. Angka tersebut terdiri dari panas bumi sebesar USD1,23 miliar, bioenergi USD0,051 miliar, aneka tambang dan energi terbarukan USD0,511 miliar, serta konservasi energi USD0,007 miliar.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif